Jalan Rusak Dimana-mana Warga Makin Gelisah dan Emosi Mereka Bertanya Apa Gunanya Bupati dan DPRD ?

Jalan rusak berlubang-lubang ada di mana-mana di semua wilayah Kulon Progo, mulai dari yang parah, parah banget dan hancvur, kapan diperbaiki tidak jelas.Warga masyarakat semakin resah dan emosional. Harus bagaimana ? (Foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Banyak ruas jalan di Kabupaten Kulon Progo rusak parah sehingga membuat kegiatan sehari-hari warga terganggu.

Yang menyedihkan, rusaknya jalan tersebut sudah berlangsung antara 5 sampai 10 tahun untuk propinsi, lebih dari 10 tahun untuk jalan kabupaten, dan lebih dari 15 tahun untuk jalan desa atau jalan rukun.

Seperti Jalan Pantai Trisik Sepanjang 2 kilometer, yang membelah Kalurahan Banaran dan Kalurahan Nomporejo, Galur, Kulon Progo. Ini jalan propinsi yang sudah lebih dari 5 tahun berlubang-lubang tidak nyaman.

Lalau jalan kabupaten sepanjang Pripih – Sermo Kokap, Kulon Progo, yang berada di perbatan antara Kabupaten Kulon Progo dan Purworejo Jawa Tengah. Jalan ini berbahaya, licin, berkelok-kelok, dan tidak tersentuh perbaikan lebih dari 15 tahun.

Politisi Partai Nasdem Sadar Widodo, yang juga mantan Kepala Dinas Kelautan Kulon Progo, menuliskan di akun FB-nya, bahwa kondisi tersebut tidak akan membaik dalam sekejap. Percayalah ! Kenapa ?

“Ada pembagian wewenang setatus jalan. Jalan lingkungan, jalan desa, jalan kabupaten, jalan propinsi dan jalan negara. Kadang yang berwenang masih uncal- uncalan sampur karena dana terbatas,” tulisnya.

Usulan perbaikan jalan rusak berjenjang, melalui musrenbang kalurahan, musrenbang kapanewon, musrenbang kabupaten. Antriannya panjang !

Daftar antrian perbaikan jalan dengan sekala prioritas, khususnya kalau itu usulan atau gawan (aspirasi) anggota DPRD  pasti didisikke (didahulukan, red).

BACA JUGA  Jusuf Kalla Lantik Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI DIY Masa Bakti 2026-2031

“Misal usulan di setujui dianggarkan paling cepat anggaran perubahan atau tahun depan,” tambahnya.

Bila sudah dianggarkan tahun 2025. Proses pengadaannya bila tender terbuka akan memakan waktu lama, pengadaan, perencanaan kontruksi dan pengawasan memakan waktu sekitar 2 – 3 bulan.

Problematika pembangunan jalan memang diratakan tiap wilayah sehingga jalan yang diperbaiki cuma 300 – 900 mete.

“Yang berlubang diperbaiki sebelahe lubang lagi. Genap satu ruas di perbaiki, ujungnya paling awal sudah rusak lagi,” katanya.

Solusi paling cepat tembal sementara jalan berlubang menggunakan jasa kuliari. Tetapi tidak tahan lama kena air bodol (rusak) lagi. Keinjak truk pasir rusak lagi.

Tulisnya, melalui FB-nya, dan tidak banyak mendapat like atau respon publik karena sepertinya warga Kulon Progo sudah manglah, atau ogah-ogahan ikut berfikir memperbaiki kondisi jalan rusak.

Di sisi lain di sebuah group Kalurahan Banaran menyoroti kondisi Jalan Pantai Trisik sepanjang 2 kilometer yang hancur sejak 7 tahun lalu.

“Ayo ditambal saja dengan tlethong sapi, “ ujar seorang warga melalui group tersebut.

Warga yang lain menyahut setuju, karena percuma ada bupati baru atau ada anggota DPRD, jalan ini tetap tidak diperbaiki meski ini menjadi akses utama warga.

Warga akhirnya sepakat akan membangun Relawan Perbaikan Jalan dengan. Mereka akan membangun jalan dengan cara sendiri, dengan upayanya sendiri, dan dengan bahan sedapatnya.

BACA JUGA  HUT ke-81 RI: 1.479 WBP di DIY Terima Remisi Kemerdekaan, 44 Orang Langsung Bebas

“Tapi perjuangan harus terus dilakukan untuk tercapainya suatu keinginan. Saya prihatin melihat jalan itu sebab di Banaran itu, dari ujung utara sampai ujung selatan berdiri Pondok Pesantren hampir puluhan pondok. Dengan adanya pondok tentunya banyak orang luar daerah yang masuk kerja Banaran melalui jalan yang rusak . Bahkan saya pernah ketemu seorang warga Kota Yogya berkelakar jalan dari Kali Butung sampai Trisik jalannya tampak lurus tapi ternyata berkelok- kelok, hanya tuk menghindari kubangan. Konon sampai 33 kelokan. Saya usul sebaiknya lubang sementara diurug dengan sirtu saja mengangkat sirtu itu merupakan potensinya Banaran . Soal diusulkan kepusat Monggo saja,” tulis Supranoto, warga Dusun VI Banaran, Galur, Kulon Progo.

Ini dipicu tidak adanya kreativitas Pemda Kulon Progo membuat terobosan agar rakyatnya sejahtera. Jalan-jalan hancur tetap saja dibiarkan.

“Pantas miksin terus,” tulis seorang warga dalam group yang sama.

Liputan : Berbagai Sumber

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *