Kulon Progo, Proliman News – Kenakalan demi kenakalan pengurus Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP) Wates, Kulon Progo, terus diungkap para nasabahnya.
Suparno (72) warga Blok I, Ngestiharjo, Wates, Kulon Progo, ini misalnya.
Ia bersama istri dan anaknya yang semula tinggal di Kaliboto, Bener, Purworejo, Jawa Tengah ini menjual rumahnya dan memilih tinggal di Kulon Progo.
Ia menjual rumahnya yang ada di Kaliboto, Bener, Purworejo, Jawa Tengah, serta membangun hari tua serta beberapa usaha di Kulon Progo.
Tak lama berselang, petugas BUKP Wates datang dan memintanya menyimpan dana milik keluarga ini dalam empat bilyet deposito.
Semua ia dan keluarganya tidak berniat menyimpan dana di BUKP Wates. Tetapi karena terus didesak maka akhirnya jebol juga. Maka disepakatilah, keluarga ini membuat empat bilyet deposito.
“Atas nama saya sendiri, Rp 115 juta, atas nama istri saya Rp 125 juta dan Rp 100 juta serta atas nama anak saya Rp 100 juta, sehingga simpanan kita ada Rp 440 juta, ” ujarnya ketika digubungi.
Semua deposito tersebut tercatat jatuh tempo per tanggal 21 November 2023, lalu. Atau deposito berjangka waktu satu tahun, alias 12 bulan.
Namun apa yang terjadi, pada saatnya akan mengambil depositonya pada tanggal jatuh tempo Suparno dibuat kecewa, karena konon kata petugas BUKP Wates tidak ada duit.
Lalu ia bersama keluarga menanyakan lagi kapan bisa mengambil simpanannya, maka kembali lagi Suparno dibuat gigit jari. Tidak ada duit.
Maka sejak itu Suparno tidak lagi menanyakan simpanannya karena ia merasa sia-sia. Ia berusaha mencari cara bagaimana agar dananya yang bisa dicairkan.
Hingga akhirnya ia membaca berita bahwa banyak nasabah BUKP Wates tidak bisa ditarik karena alasan yang tidak jelas.
“Saya tidak ngaruhke lagi, kami bergabung dengan Paguyuban Nasabah Korban BUKP Wates, untuk meminta keadilan,” katanya serak.
Ia mengatakan, tegannya BUKP Wates mempecundangi nasabahnya.
“Ini (deposito tersebut) itu maunya untuk hidup hari tua kita, pak, gemana nggih,” tambahnya.
Beda lagi dengan Bu Sudiriyah, ibu usia lanjut ini mengaku sejak awal menabung di BUKP Wates tidak pernah tahu seperti apa bentuk buku tabungannya atau seperti apa bilyet depositonya.
Karena sejak bertahun-tahun setor duit banyak melalui petugas BUKP Wates, dan ketika ditanya tabungannya berapa atau depositonya berapa, selalu dijawab besuk ditunjukkan.
“Tetapi nggih sampai sekarang saya nggak pernah tahu, dan nggak liat, buku tabungan saya dan deposito saya. Kok aneh ini gemana. Karena selama ini setor titip petugas saja,” ujarnya.
Namun menurut catatan Bu Sudiriyah, tabungan dan depositonya mencapai hampir Rp 200 juta rupiah, bisa lebih.
“Saya ndak bisa matur berapa persisnya karena bukunya di sana (BUKP Wates) tidak diberikan kepada saya. Kemarin mereka berjanji, akan diberikan hari Selasa (22/4/2025) besuk, kita buktikan,” ujarnya.
Bu Sudiriyah mengatakan, masih banyak pedagang Pasar Bendungan dan nasabah yang non pedagang pasar yang memiliki kisah sedih sepertinya.
“Semoga mereka segera bergabung di Paguyuban Nasabah Korban BUKP Wates, kita berjuang bersama mencairkan dana kita,” katanya lebih lanjut.
Liputan : Suyono Sugondo




Pemerintah Kulon Progo tidak becus. Kasus sudah lama, korban banyak, BUKP masih operasional.
Saatnya situ semua aset. Tutup. Jual. Kembalikan uang nasabah. Sampel. Jangan-jangan Pemerintah juga ikut menikmati uang rakyat. Lingkaran setan.