Tabungan Almarhumah Simbok Sardiyah di BUKP Wates Tetap Tidak Bisa Dicairkan, Samsiyah: Subhanallah !

Samsiyah menunjukkan surat kematian simboknya Bu Sardiyah dan menunjukkan buku tabungannya yang sebesar Rp 2,3 juta. Tetap tidak dicairkan )foto/sugondo)

Kulon Progo, Proliman News – Ada modus baru kenakalan BUKP Wates, yakni tidak mengembalikan tabungan nasabah meski nasabah sudah meninggal setahun lebih.

Ini yang dialami oleh keluarga almarhumah Ibu Sardiyah, warga Bendungan Lor, Bendungan, Wates, Kulon Progo.

“Simbok saya sudah meninggal setahun lalu. Jumlah tabungannya sevesar Rp 2,3 juta. Sudah kami minta sampai saya nangis-nangis, nggak cair juga,” ujar Samsiyah anak kandung Ibu Sardiyah.

Bahkan ia menuturkan, berulang kali ke kantor BUKP Wates (sampai lupa berapa kalinya). Yang jelas ia meminta tabungan almarhumah sampai gebrak-gebrak meja.

“Bukan hanya nangis, saya sampai gebrak-gebrak meja, tetap saja tabungan simbok nggak bisa dicairkan, hingga setahun lebih sekarang ini, subhanallah,”ujarnya.

Perjuangan Samsiyah untuk mencairkan tabungan almarhumah simboknya bukan berhenti sampai disitu saja.

Karena ia mengatakan suatu hari sempat ke kantor BPKAD Provinsi DIY, untuk meminta bagaimana caranya agar uang Rp 2,3 juta itu dicairkan.

“Saya ketemu petinggi namanya Pak Budi, katanya pejabat yang ngurus BUKP, saya diminta bawa meterai, dan dirusuh ke BUKP Wates. Tetap nggak cair,”katanya memaparkan.

Karena waktu itu akan digunakan untuk sedekah almarhumah simboknya, sehingga uang itu sangat berarti bagi keluarga kami, saat itu.

“Kami diminta kembali ke BUKP Wates. Lagi-lagi tidak ada hasil,” ungkapnya jengkel.

Samsiyah secara pribadi ternyata juga memiliki deposito di BUKP Wates sebesar Rp 44 juta rupiah, sama nasibnya. Tidak bisa dicairkan.

BACA JUGA  SilatuWAMI Roadshow 2026 Merajut Silaturahmi, Memperkuat Literasi Hak Cipta di Tengah Gelombang Industri Musik Digital

Ia mengaku awalnya dulu memiliki deposito di BUKP Temon sebesar Rp 50 juta, ini merupakan hasil lumpuk-lumpuk (jerih payah) – nya menjadi bakul bumbon dari pasar ke pasar.

 Ia mengaku menjadi bakul bumbon dari pasar ke pasar, seperti Pasar Temon, Pripih, Glaeng, dan sebagainya. tetapi sejak prospeknya menururn ia kini menjadi bakul kecambah. Juga dari pasar ke pasar.

Ia mengatakan, saat itu dirayu petugas BUKP Wates diminta depositonya dipindahkan dari BUKP Temon ke BUKP Wates.

Dengan cara paksa, akhirnya dipindahkan, karena petugas BUKP Wates sendiri yang mencairkan dan memindahkan ke deposito baru di BUKP Wates.

“Yang ngambilya petugas BUKP Wates, saya nggak tahu, ngerti-ngerti sudah diberi penjelasan kalau uang saya sudah di BUKP Wates sebesar Rp50 juta, dalam bentuk deposito,” katanya.

Di sini tidak beres. Karena setelah lewat tiga bulan, tiba – tiba deposito dipindah ke rekening tabungan biasa.

“Kami dulu sempat ambil, dan kini masih Rp44 juta, dan sudah dua tahun nggak bisa diambil. Ini nambahi masalah,” katanya.

Ia berharap cerita rakyat kecil ini sampai ke telinga Gubernur DIY, Ngarso Dalem Sri Sultan HB X, dan tentu ulah para petugas BUKP Wates ini sudah membuat beliau tercoreng namanya.

“Rak nggih to pak,” katanya menutup cerita.

Atas cerita pedih perih rakyat kecil seperti ini Anggota DPRD Kulon Progo, Nasib Wardoyo meminta agar Gubernur DIY secepatnya mengambil kebijakan.

BACA JUGA  Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau: 10 Penerbangan di Bandara YIA Terdampak

“Yakni rakyat jangan jadi korban, hukumyang salah, yang nyolong dan menyelweng dan bayarkan tabungan/deposito rakyat,” katanya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Gubenur Jawa Barat KMY….kalo denger nasib nasabah BUKP kulonprogo Jogja…. pasti Resah karena uang tidak bisa diambil menyengsarakan rakyat