Nenek Heru Suprihatin (62): Saya Nlongso Mas, Saya Seperti Dianiaya Anak-anak Saya Sendiri Pegawai BUKP Wates !

Nenek Heru Suprihatin harus menahan isak tangis, sebelum memulai berceritanya tentang tabungan atau depositinya yang kini tidak bisa dicairkan.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Tangis demi tangis nasabah korban BUKP Wates, Kulon Progo, DIY, terus terdengar.

Semakin terkuaknya kebohongan dan tipu muslihat yang dijalankan pegawai BUKP Wates, membuat nasabahnya kini menderita. Mereka jadi korban.

Salah satu diantara ratusan nasabah korban BUKP Wates yang terus menangis ketika ditanya soal tabungannya, adalah Ibu Heru Suprihatin (62).

Warga Bendungan Kidul, Bendungan, Wates, Kulon Progo ini merasa sampai ngemis-ngemis dan permainkan oleh pegawai BUKP Wates. Padahal ia ingin mencairkan haknya, tabungannya sendiri. Ia mengaku telah dizolimi.

“Niki pripun nggih, judeg kulo niki. Ini gemana ya, pusing saya ini,” ujarnya membuka cerita.

Bahkan Nenek Heru Suprihatin harus menahan isak tangis, sebelum  memulai berceritanya tentang tabungan atau depositinya yang kini tidak bisa dicairkan.

Ia merasa telah ditipu pegawai BUKP Wates dipermainkan, didzolimi, bahkan didolop (diguna-guna) dengan bujuk manis.

”Itu yang membuat saya nelongso, mas,” ujar Nenek Heru Suprihatin ketika disambangi di rumahnya.

Ia merasa sangat terhina hingga seperti ngemis-ngemis demi mengambil tabungan dan depositonya sendiri. Ia bahkan tak kuasa menahan nafas dan akhirnya tangis pun ambrol tak terbendung.

Ia menangis sejadinya karena merasa dikhianati dan bahkan didzolimi oleh anak-anaknya sendiri, yakni para pegawai BUKP Wates.

“Sejak Agustus 2024 saya sudah ngomong bahwa tabungan dan deposito saya sebesar Rp 50 juta akan saya gunakan untuk mantu tanggal 25 April 2025,” ujarnya

BACA JUGA  Perumahan Bumi Progo Sejahtera di Serut Margosari Pengasih Dilibas Banjir Hingga Seatap Rumah

Tetapi setiap kali ia menanyakan kapan tabungan dan depositonya bisa cair, jawaban pegawai BUKP Wates hanya selama delapan bulan ini hanya: Sabar. Semoga segera ada. Sabar.

Sementara kondisi kesehatannya pun kian tidak baik-baik saja. Stroke yang menimpanya, membuat tangan dan kaki kirinya lumpuh.

Selama itu pula ia harus berobat, terapi dan berbagai cara ditempuh agar bisa kembali sehat. Namun hasil belum didapat. Hingga saat ini, tubuhnya semakin lemah.

Dalam kondisi yang kian rapuh akibat stroke pun ia terus ke kantor BUKP Wates untuk memastikan akan mendapatkan uang simpanannya.

“Tetapi apa ? Sampai lebih dari sepuluh kali lebih saya ke BUKP Wates, mereka hanya menjawab, sabar, tunggu, dan sabar. Itu terus,” katanya.

Hingga sampai saatnya hajatan, tiba tanggal 25 April 2025 kemarin, sepeserpun tidak keluar (cair) tidak ada permintaan maaf atau ucapan apapun dari pegawai BUKP Wates.

“Datang pun tidak. Nlongso saya ini, “ ujar Heru Suprihatin, dengan lunglai.

Pesiunan guru Sekolah Dasa (SD) ini memang baru saja punya hajat mantu anak perempuannya tanggal 25 April 2025 lalu. Tetapi ia masih menanggung hutang sebesar Rp 45 juta.

“Jadi, saya mohon tabungan/deposito saya segera dicairkan, dengan cara apapun. Itu hak saya. Saya kumpukan dari setiap rupiah sejak tahun 2018 lalu. Agar saya bisa bisa melunasi hutang saya,” ujarnya lirih, sambil kembali menangis. Subhanallah !

BACA JUGA  Karyawan PT Selo Adikarto Berkumpul Guna Membahas Agenda Berikutnya Setelah Bupati Tidak Merespon Suratnya

Ia maunya tidak punya hutang. Tidak mau menanggung hutang termasuk untuk hajatan mantu anak perempuannya itu kemarin.

“Kenapa tidak mau hutang ? Karena kapan kita mati juga nggak ada yang tahu,” ujarnya sembari mengakhiri.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Ya alloh..segitunya bank bukp wates.
    Ya alloh smg segera cair.
    P Gubernur.. mohon dibantu masyarakat mrniko. Karena para pegawai bukp itu selalu mrngiklankan bahwa bukp itu kagungan p sri sultan.