Yogyakarta, Proliman News – Gempar ! Dimas Hari Agung, seorang siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMRS) Yogkarta membuat dan memamerkan patung ‘Celeng’,sebagai tugas akhir sekolah.
Pameran patung ‘Celeng’ ini tak urung membuat berbagai lapiran masyarakat heboh dan penasaran.
Apalagi patung ‘Celeng’ dipamerkan ketika Indonesia tengah dikungkung berbagai kasus korupsi.
“Anak ini calon seniman besar. Ia tanggap, dan ini mewakili keresahan masayarakat, hari ini,” ujar Endro Lelono, Seniman Yogyakarta.
Munculnya patung ‘Celeng’ juga mengingatkan banyak seniman serta masyarakat Yogyakarta akan sosok seniman Joko Pekik, yang pernah membuat gempar karena lukisannya ‘Celeng’ pada awal reformasi.
Sejumlah seniman dan budayawan pun penasaran dengan pameran patung ‘Celeng’ tersebut dan meminta SMSR Yogyakarta menggelarnya lagi untuk umum.
Karena mereka menilai ini bukan ugal-ugalan, tetapi ini kritik yang mendalam kepada pejabat korup.
Pematung yang masih duduk di bangku sekolah SMSR Yogyakarta ini telah menciptakan nuansa yang berbeda di Tanah Air, karena ia menciptakan kritiknya terhadap berbagai kasus korupsi di negeri ini dengan cara apik.
Lewat caranya sendiri yang artistik nan ‘menyindir’,siswa sekolah seni ini menciptakan sebuah patung tak biasa berbentuk babi hutan atau celeng.
Patung berbentuk hewan seram menakutkan ini diberi judul ‘Teramat Celeng’ atau Terlalu Babi Hutan.
Dengan ekspresi menyeringai, serta bulu berwarna hitam legam, patung babi ini memiliki gigi-gigi tajam serta taring yang terlihat siap mengoyak mangsanya.
Sejumlah kasus korupsi yang kini tengah mnyeruak di Tanah Air seperti Kasus Korupsi Pertamina, Korupsi Timah, Korupsi Kemendagri, Korupsi ASABRI hingga kasus penggelapan dana BUKP DIY di Kulon Progo, menjadi inspirasi terciptanya “Teramat Celeng”.
“Ini keren, karena warga negara sekelas siswa SMRS saja telah membuat kesimpulan menyeramkan tentang korupsi di Indonesia. Kasus korupsi itu telah menjadi bahan bakar membara bagi para siswa sekolah SMSR Yogyakarta, hingga tercipta karya seni ini,” ujar Saptono, Seniman Yogyakarta.
Patung ‘Teramat Celeng’ ini merupakan koleksi milik SMSR Yogyakarta yang dipamerkan dalam event Swarupa Ananta, tanggal 23-25 April 2025 lalu di Pendhapa Art Space sebagai karya seni siswa dan pelengkap tugas akhir yang diberikan dari guru.
Dimas Hari Agung, sebagai sosok dibalik karya berukuran 60cm x 35cm x 50 cm ini mengungkapkan bahwa dirinya menggunakan sosok ‘celeng’ atau babi hutan sebagai simbolisasi para koruptor yang rakus dan menyalahgunakan kekuasaan.
“Mereka memakan uang negara yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat,” ujar Dimas Hari Agung, kepada pers.
Ia mengatakan, korupsi merupakan masalah serius yang harus segera dihadapi dan diatasi secepatnya secara bersama-sama di Indonesia.
Liputan : Rendy Satrio Prabowo



