Kulon Progo, Proliman News – Sekelompok anak muda di Kalurahan Pagerharjo, Kulon Progo, DIY membangkitkan kembali kejayaan kopi khas Jawa yang dulu tumbuh subur di zaman kolonial.
Penggagas gerakan ini adalah Agus Sulistyo, atau Agus Tio. Bersama kawan-kawannya, pada 2021, dengan swadaya penuh ia berhasil menanam 12.000 batang kopi.
Gerakan itu terus tumbuh. Kelompok ini memberi nama kopi yang mereka budidaya dengan nama kopi Trajumas, yang berarti Timbangan Emas, simbol keseimbangan antara manusia dan alam.
“Trajumas, kopi Jawa khas Menoreh,” begitu mereka memperkenalkannya kepada publik luas melalui berbagai media sosial.
Gerakan kembali membudidayakan kopi di Bukit Menoreh seperti roh yang membangun semangat untuk menjadikan kopi sebagai jembatan antara sejarah, budaya, pertanian, dan masa depan.
Ini ditandai dengan kepulangan Agus Tio ke Pagerharjo, Kulon Progo, setelah merantau di kota besar selama 10 tahun lebih.
“Di kota kita setiap hari ngopi, bahannya dari desa. Tetapi kenapa desa tertinggal? ” katanya seolah menahan dendam yang membara.
Lalu pada 30 November 2019 ia bersama empat orang pemuda membuat survey. Jenis pohon apa saja yang hidup di wilayahnya. Ada Serai, cengkeh, hingga rempah-rempah lainnya diteliti.
Namun, temuan paling mencolok justru datang dari pagar bambu rumah warga yang dibuat dari batang kopi—hidup dan berbuah.
Mereka menemukan fakta, kopi ternyata telah tumbuh di kawasan Bukit Menoreh sejak zaman tanam paksa, dikenal sebagai kopi Londo.
“Waktu itu kami sadar, ini bukan sekadar tanaman, tapi warisan sejarah yang bisa dihidupkan kembali,” ujarnya.
Pada 2021, dengan swadaya penuh mereka berhasil menanam 12.000 batang kopi.
Lahirnya Kelompok Tani Tarunatani Asta Brata menjadi penanda bahwa langkah mereka sudah menjejak struktur yang formal.
Dukungan terus mengalir, salah satunya dari Pemerintah DIY melalui Paniradya Keistimewan.
Setelah legalitas terbentuk, mereka memperoleh pupuk dan 7.800 bibit kopi yang langsung mempercepat proses berkembangnya gerakan ini.
Di tahun 2025, bantuan tambahan sebesar 20.000 bibit kopi, serta penambahan fasilitas di rumah produksi yang telah dibangun.
Tak berhenti di situ, Paniradya Keistimewaan juga berkomitmen melakukan pendampingan teknis dan evaluasi berkelanjutan dengan menggandeng dinas terkait, akademisi, dan praktisi pertanian.
“Apa bedanya beli mobil dan menanam kopi ? Mobil cuma bisa dibeli sekali, tapi kopi bisa dipanen berkali-kali,” ujar Agus Tio.
Ia memperkirakan satu pohon dapat menghasilkan 10-11 kilogram kopi per tahun.
Bila seorang petani menanam 2.000 batang, potensi pendapatan bisa mencapai Rp120 juta per tahun, atau Rp10 juta per bulan.
“Kalau begitu, petani bangun tidur pun sudah punya 333 ribu rupiah,” tambahnya sambil berkelakar.
Namun, kelakar itu bukan tanpa dasar. Hari ini, masyarakat mulai percaya bahwa kopi bukan hanya bisa dinikmati, tapi juga bisa menyejahterakan. Kopi lebih dari sekadar produk pertanian.
Trajumas adalah filosofi diambil dari istilah kuno yang berarti timbangan emas, simbol keseimbangan alam dan manusia.
“Kesejahteraan itu soal keseimbangan. Antara kerja dan tanah, antara budaya dan ekonomi,” ujarnya.
Kopi bukan hanya komoditas, tapi narasi sosial yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kopi yang dikembangkan di wilayah ini jenis arabika.
“Dan kita punya kopi otentik ada sejak jaman kolonial belanda orang sini menyebutnya kopi londo/siberiah/bariah. Atau sekarang di sebut liberika,” ujarnya menambahkan.
Trajumas Java Coffe, mampu mendongkrak keaslian rasa kopi jawa. Karena rasa ini yang paling dibutuhkan oleh para pelanggan. Keunikan kopi ini adalah dari citarasanya, pungkas Agus.
Liputan : Hari Sutanto



