Aditya Hera Nurmoko: Tanpa Konsep, Jembatan Pandansimo Dibuka Besuk atau Tahun Depan Sama Saja !

Mestinya ada titik pertumbuhan produksi baru di kawasan Pantai Selatan Kulon Progo, karena Jembatan Pandansimo segera dibuka untuk umum.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Mestinya ada titik pertumbuhan produksi baru di kawasan Pantai Selatan Kulon Progo, karena Jembatan Pandansimo segera dibuka untuk umum.

Selain itu, dengan dibukanya Jembatan Pandansimo mestinya juga diikuti dengan peningkatan sektor distribusi yakni memperlama orang tinggal di kawasan pantai selatan Kulon Progo, belanja, dan menumbuhkan kegiatan usaha lain, seperti usaha jasa.

“Tetapi semua itu butuh konsep, karena infrastruktur itu merupakan alat pertumbuhan. Tetapi harus terkonsep, ada perencanaan, dan eksekusi. Kalau tidak ada konsep, tidak ada pemikiran atau gagasan, ya semua proyek insfrastruktur yang megah di Kulon Progo ini tidak merubah apa-apa,” kata Pengamat Ekonomi Aditya Hera Nurmoko, dihubungi Rabu (30/7/2025).

Karena dibukanya Jembatan Pandansimo itu mestinya mampu meningkatkan perekonomian di sepanjang Pantai Selatan, baik dari sisi distribusi, produksi dan usaha jasa.

“Sekali lagi, dibukanya Jembatan Pandansimo sebagai jalur distribusi itu akan memberi dampak ekonomis jika Pemda Kulon Progo dan masyarakatnya harus memiliki konsep,” ujarnya.

Kalau tidak memiliki konsep, atau hanya bengong-bengong saja melihat infrastrukltur jalan ini difungsikan, maka dibukanya Jembatan Pandansimo tidak bakal punya pengaruh apa-apa bagi Kulon Progo.

Maka kita harus melihat kembali seperti apa konsep yang dibangun Pemda Kulon Progo untuk kawasan Pantai Selatan among tani dagang layar, tambahnya.

Aditya Hera Nurmoko mengingatkan agar Pemda Kulon Progo dan masyarakatnya tidak mengulangi kegagalan pembangunan ekonomi setelah Bandara YIA dioperasikan.

BACA JUGA  Gita Gemilang : Indonesia Terjebak Lingkaran Krisis Ekologis, Perlu Perubahan Tata Kelola Terpadu

Atau kegagalan memahami dan menindaklanjuti adanya proyek strategis nasional lain, seperti Jalur Menoreh, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), dan lainnya.

“Kalau Bandara YIA hanya berfungsi sebagai tempat turunnya penumpang lalu pergi dan tinggal di Kota Yogyakarta, maka Banadara YIA tidak ada dampaknya bagi perekonomian lokal Kulon Progo,” katanya.

Kasus ini semestinya menjadi pelajaran bagi Pemda Kulon Progo dan masyarakatnya agar keberadaan proyek strategis nasional Jembatan Pandansimo itu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Yakni mampu menumbuhkan titik produksi baru (usaha baru) kemudian bisa menjadi pendorong peningkatan peredaran uang serta menangkap sektor distribusi, dengan memperlama orang tinggal disini, belanja, dan meningkatakan perputaran uang di wilayah ini.

Sedang di sektoir jasa, semakin banyak masyarakat terlibat di sektor usaha jasa karena meningkatnya atau semakin lama orang tinggal dan belanaja di wilayah ini maka akan menumbuhkan sektor jasa.

“Hanya sepengetahuan saya, Pemda Kulon Progo dan masyarakat, sampai sejauh ini tidak melakukan hal itu, tidak mengkonsep ya,” ujarnya.

Maka akan kembali pada kondisi dimana Bandara YIA hanya jadi tempat penumpang turun, lalu pergi entah kemana, JJLS, Jembatan Pandansimo hanya untuk lewat saja, dan tidak akan terjadi pertumbuhan ekonomi.

“Jika demikian maka berarti Pemda Kulon Progo dan masyarakat gagal memahami kehadiran proyek insfrastruktur kelas nasional tersebut untuk peningkaran ekonomi,” tambahnya.

BACA JUGA  18 Gubernur Protes ke Kantor Menteri Keuangan Purbaya Sadewa karena Transfer ke Daerah Turun Drastis

Karena kalau Jembatan Pandansimo hanya untuk lewat saja makan akan sama artinya seperti Tol yang tidak memiliki dampak pertumbuhan ekonomi untuk masyarakat.

“Jika Bandara YIA hanya untuk turun penumpang, Jembatan Pandansimo hanya untuk lewat saja, Tol apalagi, maka diyakini dibuka atau tidak Jembatan Pandansimo tidak akan berdampak apa-apa,” katanya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *