Pembangunan Tol Solo – YIA Tidak Ada Dampak Ekonomisnya Bagi Masyarakat Kulon Progo, Ini Kata Para Pengamat !

Pembangunan jalan tol yang melintasi wilayah Kabupaten Kulon Progo dipastikan tidak memberi dampak apa-apa pada peningkatan ekonomi wilayah ini.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Pembangunan jalan tol yang melintasi wilayah Kabupaten Kulon Progo dipastikan tidak memberi dampak apa-apa pada peningkatan ekonomi wilayah ini.

Jangankan dampak ekonomi jangka panjang, menyerap tenaga kerja pun tidak. Karena para pekerja proyek jalan tol dibawa dari luar daerah oleh para subkon proyek raksasa ini.

“Maka proyek tol berani memberi ganti rugi besar kepada para pemilik lahan di wilayah Sentolo, Pengasih, Kokap dan Temon Kulon Progo, karena mereka sejatinya bukan infrastruktur pendukung perekonomian daerah,” ujar Pengamat Ekonomi Eko Haryanto.

Maka benar ujar Ketua DPC Partai Gelora Kulon Progo, pembangunan jalan tol yang melintasi Kabupaten Kulon Progo tidak memiliki dampak pada apapun, apalagi untuk peningkatan perekonomian.

“Dampaknya kecil. Hampir tidak ada. Apalagi untuk usaha menengah kecil dan mikro, sangat tidak nyambung. Contoh sudah ada, pembangunan rel kereta api yang langsung masuk bandara YIA itu, apa dampaknya bagi masyarakat Kulon Progo, tidak ada,” ujar Ketua DPC Partai Gelora Kulon Progo, Bambang Susilo, Senin (4/8/2025).

Untuk menggurangi pengangguran dengan adanya proyek tol, juga tidak mungkin. Paling banter ada pekerja yang terlibat saat pembangunan tol itu berlangsung. Dan setelah itu, kita hanya jadi penonton.

Sementara Pancar Topo Driyo Anggota Komisi C DPRD Kulon Progo berpendapat, proyek jalan tol yang melintasi wilayah Kabupaten Kulon Progo, yakni Tol Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo, memang diharapkan membawa dampak positif bagi perekonomian lokal.

BACA JUGA  Pedagang Pasar Jombokan Pengasih Kulon Progo Mendapat Potongan Pajak Restribusi 50 Persen

Meski proyek ini juga akan disertai sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.

Manfaat ekonomi yang paling penting adalah peningkatan konektivitas antara Yogyakarta, Solo, dan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Ini diyakini akan meningkatkan arus wisatawan dan logistik, serta mempercepat distribusi barang dan jasa di wilayah Joglosemar (Jogja–Solo–Semarang)  .

Maka pembukaan exit tol di beberapa titik (Wates, Sentolo, Kokap dan Pengasih) dirancang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Maka disini perlunya menargetkan exit di Sentolo mendukung kawasan industri Banguncipto, sementara exit di Pengasih/Kokap mempermudah akses ke YIA kawasan kuliner Wates dan kawasan pertanian serta agropark di Nanggulan,”katanya.

Proyeksi pertumbuhan makro ekonomi menunjukkan bahwa pembangunan ruas tol di DIY bisa menyumbang pertumbuhan ekonomi daerah DIY, menyerap tenaga kerja dan menghasilkan output ekonomi dengan penyerapan pajak tidak langsung.

Pembebasan lahan lewat APBN juga memberikan manfaat finansial bagi masyarakat lokal, dengan potensi peningkatan daya beli jika dikelola dengan baik, selama ada bimbingan dari pemerintah dilaksanakan secara efektif dan efisien

Tantangan dan potensi dampak negatif pasti ada. Dampak pada UMKM, yakni menurunnya pengunjung di jalur lama yang biasa dipenuhi UMKM, rumah makan, dan pusat oleh-oleh menjadi sepi.

“Proyek jalan tol membauat mobilitas memang meningkat, namun ekonomi kecil di sepanjang jalan lama yang biasa dilintasi kendaraan antar kota mengalami tekanan akibat berkurangnya lalu lintas,” ujarnya.

BACA JUGA  KPK Duga Pemerasan WNA di Imigrasi Masih Marak Pasca-OTT, Kerugian Capai Rp145,5 Miliar

Yang pasti tidak semua warga lokal mendapat manfaat yang merata. Ada risiko pembebanan lingkungan, berkurangnya lahan pertanian, dan konsentrasi pembangunan industri yang tidak inklusif secara sosial  .

“Kekhawatiran kami juga bisa merugikan investor lokal seperti hotel di Temon. Warga berharap ada exit di Sentolo dan Pengasih untuk menjaga keseimbangan ekonomi lokal lebih luas,” ujarnya.

Maka pemerintah daerah dan pusat perlu bersinergi untuk program pemberdayaan UMKM, penyediaan fasilitas di exit zone (pusat oleh-oleh, agropark, tourist hub), pengembangan kawasan industri sekitar exit Sentolo/Banguncipto, dan kota Wates serta pengaturan kebijakan agar proyek ini tidak merugikan usaha lokal yang sudah ada.

“Harapanya ini bisa megatasi masalah kemiskinan yang tinggi di wilayah Kulon Progo,” ujarnya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *