Kulon Progo, Proliman News – Akibat abrasi yang menghancurkan pantai selatan Pasir Mendir dan Pasir Kadilangu, Jangkaran, Temon, Kulon Progo, kini warga mulai resah.
“Dalam kondisi seperti ini Pemerintah harus hadir, karena yang hancur kemakan abrasi itu kawasan sandang pangan warga,” ujar Anggota DPRD Kulon Progo Nasib Wardoyo, Kamis (16/10/2025).
Ia menegaskan, abrasi ini ternyata sudah berlangsung lebih dari 3 bulan terakhir dan esakalasinya terus meningkat.
Dari yang semula hanya dua tiga meter sekarang ini abrasi sudah menghancurkan 100 meter lebih bibis pantai sepanjang 3 kilometer.
Warga selama ini sudah melaporkan ke Kalurahan dan Kapanewon, tetapi rumanya tidak sampai ke Kabupaten atau Propinsi DIY.
“Yang sudah hilang ditelan gelombang laut itu bukan hanya properti wisata seperti gubug-gubung atau gardu pandang, tetapi kawasan tambak yang selama ini menghidupi warga,” katanya.
Kalau pendopo hilang, gardu pandang hilang, serta lapak-lapak jualan warga hilang barangkali masih tidak menyedihkan.
“Tetapi kalau warga sudah kehilangan sumber mata pencaharian, ini bukan lagi urusan sesama warga, tetapi sudah urusan pemerintah,” ujar Nasib Wardoyo.
Untuk itu melalui rilis pemberitaan ini ia berharap semua pejabat yang terkait dengan masalah ini diharap segera turun tangan.
“Saya tadi ketemu warga, mereka memang tidak mengeluh masalah sandang pangan kepada pemerintah setempat, tetapi mereka telah melaporkan peristiwa ini,”tambahnya.
Tidak mengeluh bukan berarti tidak susah atau tidak bermasalah, tetapi karena selama ini warga biasa dalam tempaan alam yang sengit sehingga tetap tabah sembari mencari alternative penghasilan, lanjutnya.
“Tertapi mereka ini rakyat Kulon Progo, sehingga masalah ini merupakan kewajiban Pemda Kulon Progo,” tandasnya.
Nasib Wardoyo meminta Pemda Kulon Progo mengajukan anggaran pembangunan pelindung kawasan barier pantai semacam pagar laut agar kawasan ini tidak habis di makan abrasi.
Ia menyatakan, abrasi ini akibat dari dibangunnya bangunan pemecah gelombang di sisi barat Pantai Congot sehingga arus gelombang yang menghantam kawasan ini makin kuat.
“Kan tidak mungkin pemecah gelombang yang dihancurin, tetapi harus serta merta ada pagar pantai apapun bentuknya agar kawasan ini terlindungi,” tegasnya.
Liputan : Suyono Sugondo



