Yogyakarta, Proliman News – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogtakarta melaporkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi tergolong tinggi seminggu terakhir.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan bahwa hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan suplai magma di tubuh Gunung Merapi masih berlangsung.
Kondisi ini berpotensi memicu munculnya awan panas guguran di wilayah rawan bencana.
“Aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi berupa erupsi efusif. Status aktivitas tetap di tingkat siaga. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” jelasnya Sabtu (1/11/2025).
Selama sepekan pengamatan, Gunung Merapi tercatat mengeluarkan dua kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter ke arah Kali Krasak dan Kali Sat/Putih.
Selain itu, terjadi 26 kali guguran lava ke arah Kali Krasak, 2 kali ke arah Kali Bebeng, serta 33 kali ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak maksimum mencapai 2.000 meter.
Analisis morfologi menunjukkan adanya perubahan kecil pada kubah barat daya akibat aktivitas guguran, sementara kubah tengah relatif stabil.
Volume kubah terbaru masing-masing tercatat 4,41 juta meter kubik (Barat Daya) dan 2,36 juta meter kubik (Tengah).
Dari sisi kegempaan, BPPTKG mencatat 546 gempa fase banyak (MP), 33 gempa vulkanik dangkal (VTB), dan 714 gempa guguran (RF).
Aktivitas kegempaan ini menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada tubuh gunung.
Hujan dengan intensitas tertinggi tercatat di Pos Babadan sebesar 17,4 mm/jam selama 178 menit pada 24 Oktober 2025.
Namun, hingga saat ini belum terpantau adanya aliran lahar di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
BPPTKG mengimbau pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan memastikan jalur evakuasi dalam kondisi siap digunakan.
“Masyarakat agar tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya dan tetap waspada terhadap ancaman lahar serta awan panas guguran, terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi,” jelas Agus.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai kemungkinan gangguan abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Jika terjadi peningkatan signifikan aktivitas vulkanik, BPPTKG akan segera melakukan peninjauan kembali terhadap status Gunung Merapi.
Liputan : Suyono Sugondo



