Kulon Progo, Proliman News– Mengajak masyarakat hidup bersih merupakan pekerjaan rumah (PR) yang akan digalakkan di Kabupaten Kulon Progo, mulai tahun pertama pemerintahannya ke depan.
Karena kebersihan diyakini bakal menjadi pangkal kesehatan. Pasti itu. Dan efek positif dari program mengajak masyarakat hidup bersih bakal panjang.
Demikian Calon Wakil Bupati Kulon Progo Nomor Urut 1, Ambar Purwoko, Minggu (10/11/2024) usai menghadiri senam masal di Stadion Cangkring, Wates.
Ia menuturkan, hidup bersih akan memberi dampak ke semua sektor kehidupan masyarakat atau bahkan dipastikan bakal memberi mulitiplier efek pada semua aspek kehidupan.
Sehingga dengan menggalakkan masyarakat Kabupaten Kulon Progo berpola hidup bersih, bakal berdampak pada kesehatan pribadi setiap anggota masyarakat, kesehatan lingkungannya, dan kesehatan jiwanya.
“Dimana masyarakat itu berkebudayaan hidup bersih, baik dalam kehidupan rumah tangganya, lingkungannya, maka pribadinya atau jiwanya juga cenderung bersih,” ujarnya.
Ambar Purwoko mengatakan, multiplier efek mengajak masyarakat berpola hidup bersih tentu selain bersih badannya, dipastikan juga bersih ruhaninya.
Artinya, setelah masyarakat biasa dengan pola hidup bersih pasti berdampak pada kebersihan batinnya.
“Kita sepakat kebersihan pangkal kesehatan. Maka untuk membangun kualitas warga masyarakat, pertama harus digenjot kebiasaan hidup bersih,” ujarnya kepada media.
Ambar Purwoko mengatakan, sepertinya ajakan hidup bersih itu menjadi bahan tertawaan. Tetapi sebenarnya program ini teramat mahal untuk masa depan anak bangsa dimanapun berada.
“Bukan hanya anak bangsa di Kabupaten Kulon Progo, lho, semua. Nah, jika kami menang dan diberi amanat memimpin Kabupaten Kulon Progo, hidup bersih akan kita garap diujung,” katanya.
Dengan harapan program hidup bersih seluruh wilayah Kabupaten Kulon Progo itu bersih, gilar-gilar, enak dipandang setiap harinya, lanjut Ambar Purwoko.
Ia menegaskan, tidak ada gunanya penataan seluruh wilayah di Kabupaten Kulon Progo dilakukan dengan dana besar tetapi masyarakatnya tidak terbiasa hidup bersih.
“Kalau kompleks perkantoran dibuat megah dan mentereng, tetapi pola hidup bersih tidak ada ya nggak nyambung donk. Maka hidup bersih harus menjadi program di tahun pertama, baru penataan kawasan, ya perkantoran, lingkungan umumnya, ya pemukimannya,” ungkapnya.
Sehingga pada tahun-tahun berikutnya tinggal melakukan pemantapan.
“Terutama kebersihan di lingkungan kerja, dilingkungan rumah tangga, dan harapannya bersih secara ruhani. Itu akan terbentuk dengan sendirinya,” papar Ambar Purwoko.
Liputan : Suyono Sugondo



