Kulon Progo, Proliman News – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulon Progo lakukan evaluasi SPMB di Grand Rohan, pada 24–25 September 2026.
Kegiatan difasilitasi oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY, bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY serta Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-DIY.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, Nur Wahyudi menyampaikan evaluasi dan praktik baik pelaksanaan SPMB Tahun 2026.
Secara umum, pelaksanaan SPMB di Kabupaten Kulon Progo berjalan lancar dan berbagai kendala yang muncul dapat diselesaikan melalui koordinasi serta pendampingan.
Salah satu praktik baik yang menjadi perhatian adalah penerapan aplikasi SPMB secara full online pada jenjang SMP Negeri.
“Mulai dari pembuatan akun, kurasi sertifikat, unggah dokumen persyaratan, pemilihan jalur hingga proses seleksi dilakukan melalui aplikasi,” katanya.
Sistem tersebut memberikan kemudahan kepada masyarakat karena proses pendaftaran dapat dilakukan tanpa harus datang dan mengantre untuk menyerahkan dokumen.
Sekolah juga terbantu dalam proses verifikasi dan pendaftaran.
Pada tahun 2026, daya tampung pendidikan di Kabupaten Kulon Progo tercatat sebanyak 9.912 murid untuk 334 SD Negeri/Swasta dan 6.432 murid untuk 70 SMP Negeri/Swasta.
Untuk jenjang SD, sebanyak 4.556 murid baru diterima di kelas 1, sedangkan jenjang SMP menerima 4.675 murid baru kelas 7.
Pelaksanaan SPMB juga didukung kolaborasi lintas sektor, diantaranya BPMP DIY yang terlibat dalam penyusunan petunjuk teknis, Dinas Sosial P3A mempunyai tugas mendukung pemanfaatan DTSEN untuk data murid dari keluarga tidak mampu, dan ada juga koordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk verifikasi data kependudukan, sedangkan bagi calon murid penyandang disabilitas adanya asesmen yang didukung oleh Universitas Negeri Yogyakarta.
Selain itu, Dinas Dikpora menyediakan layanan help desk SPMB, baik melalui Posko SPMB maupun layanan WhatsApp untuk konsultasi, kendala, dan pengaduan masyarakat.
Namun demikian, evaluasi juga mencatat sejumlah tantangan. Di antaranya adalah menurunnya jumlah usia masuk sekolah dan persebaran calon murid yang belum merata.
“Beberapa wilayah seperti Wates, Pengasih, dan Sentolo memiliki jumlah calon murid yang relatif padat, sementara beberapa wilayah lainnya mengalami penurunan sehingga terdapat SMP Negeri yang belum memenuhi daya tamping,” lanjutnya.
Hasil evaluasi selanjutnya menjadi bahan perbaikan, antara lain melalui penguatan pendampingan penggunaan aplikasi, pemadanan data, serta pengaturan pemenuhan daya tampung dengan melibatkan sekolah swasta maupun madrasah.
Melalui evaluasi bersama ini, pelaksanaan SPMB diharapkan semakin efektif, transparan, dan mampu memberikan layanan penerimaan murid yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo.
Liputan : Gilang Pratama



