Kulon Progo, Proliman News – Mulai besok Selasa (8/7/2025) pukul 05.27 kita akan mengalami dilanda fenomena aphelion, dimana letak bumi akan sangat jauh dari Matahari.
Kita tidak bisa melihat fenomena tersebut tetapi bisa merasakan dampaknya. Ini akan berlangsung sampai bulan Agustus 2025.
Kita akan mengalami cuaca yang dingin melebihi cuaca dingin sebelumnya, dan akan berdampak meriang flu, batuk sesak nafas dll.
Oleh karena itu mari kita semua tingkatkan imun dengan banyak meminum vitamin atau suplemen agar imun kita kuat.
“Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan-Nya,” demikian seruan disejumlah media sosial yang viral hari ini Senin (7/7/2025),
Jarak Bumi ke Matahari perjalanan 5 menit cahaya atau 90.000.000 kilometer. Fenomena aphelion menjadi 152.000.000 kilometer atau 66 % lebih jauh.
Jadi hawa lebih dingin, dampaknya ke badan kurang enak karena tidak terbiasa dengan suhu ini,.
Untuk itu jaga kondisi kesehatan kita agar tetap sehat dengan keadaan cuaca yang sedemikian rupa.
Jangan sampai nanti sebagai dalih untuk corona fase berikutnya. Salam sehat.
“Mohon di bagikan ke semua orang yang kita kenal, agar mereka juga tahu dan tidak mudah dibodohi sebagai Coroba Varian baru,” tulis penyebar peringatan ini.
Menanggapi beredarnya peringatan ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan memastikan fenomena Aphelion yang terjadi pada awal Juli 2025 tidak berdampak signifikan terhadap perubahan cuaca maupun suhu di wilayah Indonesia.
“Fenomena ini memang sedang terjadi, namun dampak signifikannya tidak ada karena jarak matahari dan bumi memang sudah sangat jauh,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, di Balikpapan, Senin (7/7/2025).
Ia menjelaskan, Aphelion adalah posisi terjauh Bumi dari Matahari dalam orbit tahunannya, yang lazim terjadi setiap pertengahan tahun, tepatnya sekitar awal hingga pertengahan Juli.
Lanjutnya, meskipun jarak bumi dengan matahari bertambah sekitar 147 juta kilometer menjadi sekitar 152 juta kilometer, perubahan tersebut tidak cukup berpengaruh terhadap suhu secara nyata.
Menurut Kukuh, pengaruh utama cuaca harian justru berasal dari distribusi awan, tekanan udara, dan pola angin regional.
“Perbedaan jarak hingga ratusan kilometer ini tidak memberikan perubahan suhu yang signifikan,” ujarnya.
Kukuh menambahkan, cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia saat ini lebih dipengaruhi oleh transisi musim dari penghujan ke kemarau.
Masa peralihan tersebut menyebabkan cuaca menjadi tidak menentu, dengan kelembapan tinggi dan hujan lokal yang masih kerap terjadi.
“Kelembapan yang tinggi dan suhu yang berubah-ubah bisa berdampak pada kondisi kesehatan, misalnya batuk, pilek, atau penyakit lain yang berhubungan dengan daya tahan tubuh,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang menyebut fenomena Aphelion menyebabkan suhu ekstrem atau dikaitkan dengan isu-isu kesehatan seperti gelombang pandemi baru.
“Fenomena Aphelion ini berulang setiap tahun dan bukan sesuatu yang luar biasa,” katanya.
Menurut Kukuh, pola peningkatan penyakit seperti demam berdarah lebih disebabkan oleh faktor kelembapan dan genangan air akibat hujan yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Perkembangan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor penyakit DBD cenderung meningkat pada kondisi seperti ini.
Ia meminta masyarakat tetap menjaga kondisi kesehatan, namun tidak perlu panik berlebihan karena Aphelion bukan faktor utama cuaca dingin atau penyebab penyakit musiman.
“Kalau dibandingkan suhu permukaan, pengaruh Aphelion itu sangat kecil. Suhu di Indonesia lebih dipengaruhi oleh pola angin, awan, dan kelembapan,” tuturnya.
Liputan : Suyono Sugondo/Ant



