Kulon Progo, Proliman News – Hari ini Jumat (7/2/2025) Jembatan Srandakan lama usianya genap 100 tahun. Jembatan Srandakan lama ini konon dibangun pada 1925 dan diresmikan pada 1929.
Hanya saja waktu itu Jembatan Srandakan lama dibangun sebagai jembatan Kereta Api (lori) pengangkut tebu.
Jembatan Srandakan lama ini memiliki panjang jembatan 531 m, terdiri dari 59 bentang masing-masing 9 meter.
Jembatan Srandakan lama telah mengalami beberapa alih fungsi dan rehabilitasi, antara lain pengalihan fungsi dari jembatan lori menjadi jembatan jalan raya pada 1951.
Lalu penggantian lantai jembatan dari lantai kayu menjadi lantai beton pada 1962, penggantian gelagar dari baja menjadi komposit (17 bentang) dan beton slab (40 bentang) serta pelebaran dari 3.3 m menjadi 5.5 m pada 1979-1985.
Struktur bawah jembatan (pilar dan fondasi) tidak pernah berubah, tetap seperti aslinya.
Pada 20 April 2000, dua dari 58 pilar jembatan turun (ambles) yang terjadi dalam dua hari berurutan. Pilar ke-25 turun pada 20 April 2000 dan pilar ke-26 turun pada hari berikutnya.
Sebelum peristiwa ini, sebuah truk tronton bermuatan semen melintasi jembatan pada 19 April 2000.
Menyusul peristiwa ini, sebuah jembatan darurat tipe bailey dipasang di atas bentang yang turun untuk membuka akses jembatan.
Pilar ke-25 ambles 1.39 cm pada 20 April 2000. Pilar ke-25 dan ke-26 ambles pada 20-21 April 2000, jembatan darurat dipasang untuk membuka akses kendaraan ringan melewati jembatan.
Kegagalan fondasi dan pilar Jembatan Srandakan tidak terjadi secara tiba-tiba.
Jembatan ini mulai menampakkan tanda-tanda mengalami permasalahan sejak akhir dasa warsa 80-an dan berlanjut selama era 90-an.
Degradasi dasar sungai merupakan sumber pertama timbulnya permasalahan. Pada masa itu, degradasi dasar sungai terjadi hampir di sepanjang alur Sungai Progo.
Dengan membandingkan gambar rencana jembatan pada 1925 dan posisi dasar sungai terhadap lantai jembatan pada awal 2000, tampak bahwa dasar sungai turun 3 meter.
Bukti lain bahwa dasar sungai turun dapat diamati dari menggantungnya Intake Sapon yang berada lebih kurang 2 kilometer ke arah hulu Jembatan Srandakan.
Kenapa bisa terus dasar Sungai Progo kenapa bisa terusmenerus turun sementara pasokan material dari hulu sungai terus terjadi ?
Jawabannya, karena penambangan liar maupun berizin yang tidak terkendali di sepanjang ruas Kapanewon Lendah Kulon Progo atau Kapanewon Pandak Bantul hingga Kapanewon Galur Kulon Progo dan Kapanewon Srandakan Bantul.
“Ini fakta akibat keserakahan orang berduit yang diberikan legal standing oleh instansi negara . Akibat seperti ini pernah saya perdebatkan dengan oknum, sewaktu kali berlima dipanggil aparat karena kami mendukung Gerakan Rakyat Dusun 1-2, Banaran, Galur, Kulon Progo, menentang penambangan pasir dengan alat berat dan sedot,” ujar Sarana, mantan pegawai Inspektirat DIY.
Liputan : Suyono Sugondo



