Kisah Inspiratif 3 Lulusan Kedokteran UGM yang Raih IPK Sempurna 4,00, Ini Rahasianya!

(Foto/Laman Resmi UGM)

Yogyakarta, Prolimannews – Kelulusan dari jurusan kedokteran sering kali diidentikkan dengan perjuangan yang berat dan menguras energi. Namun, tiga wisudawan Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berhasil membuktikan bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Mereka sukses lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Pencapaian luar biasa ini diraih oleh Tegar Rinang Pratama, Kharisa Rasikhatul Hikmah, dan Ashifa Jasmine pada prosesi Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM di Grha Sabha Pramana. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata IPK lulusan sarjana periode ini yang berada di angka 3,60.
Dibalik angka sempurna tersebut, ketiganya memiliki kisah perjuangan dan strategi belajar unik yang sangat menginspirasi.

Bagi Tegar Rinang Pratama, pemuda asli Yogyakarta, meraih IPK 4,00 sama sekali bukan target awalnya. Ia mengaku hanya berusaha memberikan yang terbaik di setiap tahapan.

“Prinsip saya let it flow saja. Tapi karena dari awal nilainya sudah bagus, saya punya prinsip untuk terus mempertahankan. Istilahnya, nek wes teles ojo mentas (kalau sudah terlanjur basah, sekalian saja dilanjutkan),” canda Tegar.

Berbeda dengan masa SMA yang sering mengandalkan Sistem Kebut Semalam (SKS), Tegar mengubah total pola belajarnya saat masuk kuliah. Ia menerapkan disiplin ketat dengan mencicil materi seminggu sebelum ujian dan memanfaatkan waktu luang di perpustakaan. Uniknya, saat H-1 ujian, ia justru tidak menyentuh materi lagi karena menganggap semua materi harus sudah dikuasai sebelumnya.

BACA JUGA  Presiden Prabowo Gelar Open House Usai Sholat Idhul Fitri Hari Ini Sebagai Momen Interaksi Tanpa Sekat

Meski fokus akademik, Tegar tetap aktif mengasah kemampuan non-akademik saat libur semester dengan menjadi sukarelawan di berbagai acara besar, mulai dari Yogyakarta Gamelan Festival hingga Jogja Fashion Week. Kini setelah memasuki fase koas, Tegar berharap bisa menjadi dokter yang tidak hanya mengobati fisik, tetapi juga memiliki empati tinggi dan meninggalkan kesan mendalam bagi pasiennya.

Cerita berbeda datang dari Kharisa Rasikhatul Hikmah. Sebagai orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan kedokteran, Kharisa sempat buta mengenai dunia medis. Baginya, tujuan utama belajar kedokteran bukan demi nilai, melainkan karena sadar profesi ini menyangkut keselamatan nyawa orang banyak.

Kunci sukses Kharisa terletak pada pengenalan diri dan manajemen prioritas. Sadar bahwa dirinya bukan tipe orang yang bisa melakukan banyak hal sekaligus (multitasking), ia memilih membatasi kegiatan organisasi dan fokus penuh pada akademik.

Pengalaman berinteraksi dengan pasien selama masa koas memberikan pelajaran berharga baginya bahwa realita di lapangan tidak selalu sama dengan teori buku teks. Setelah menyelesaikan koas dan program internship, Kharisa berencana mengabdi sebagai dokter umum terlebih dahulu sebelum melanjutkan studi ke jenjang spesialis.

Bagi Ashifa Jasmine, mahasiswi asal Lombok, keputusannya memilih dunia kedokteran berawal dari pengalaman masa kecilnya yang sering bolak-balik ke rumah sakit akibat penyakit kronis. Terinspirasi oleh kebaikan para tenaga medis yang merawatnya, ia bertekad memberikan dampak serupa bagi orang lain.

BACA JUGA  Hasto Wardoyo: Human Capital Index (HCI) Indonesia 0,54 dari skala 0–1 Peringkat 87 dari 157 Negara.

Namun, perjalanan Ashifa tidaklah mulus. Ia sempat menghadapi tekanan ekonomi dan mengalami krisis kepercayaan diri setelah beberapa kali gagal mendapatkan beasiswa. Di tengah situasi sulit itu, Ashifa memilih fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan, yaitu usahanya dalam belajar.

Dukungan penuh dari sang ibu menjadi bahan bakar utama Ashifa untuk tidak takut gagal. Nilai-nilai perjuangan hidup ini pula yang memicu impian besarnya setelah lulus. Ashifa bercita-cita untuk menjalani program internship dan mengabdi di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Menurutnya, masyarakat di wilayah-wilayah terpencil tersebut jauh lebih membutuhkan kehadiran dan dedikasi seorang tenaga kesehatan.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *