Langkah “Nyeker” dan Jeda Sepuluh Detik: Cara Bupati Temanggung Ajak Warga Merawat Bumi

Bagi bupati yang pernah mengabdi sebagai Kepala Desa Campurejo selama tiga periode ini, bertelanjang kaki alias nyeker seolah menjadi caranya untuk kembali "menyentuh" tanah yang selama ini menghidupi warganya.
Bagi bupati yang pernah mengabdi sebagai Kepala Desa Campurejo selama tiga periode ini, bertelanjang kaki alias nyeker seolah menjadi caranya untuk kembali "menyentuh" tanah yang selama ini menghidupi warganya.

Temanggung, Proliman News – “Sandalan Pak. Panas, Pak!” teriak seorang petani dari tengah kerumunan, memecah keriuhan di kawasan Rest Area Kledung, Sabtu (2/5/2026). Di depan panggung utama, Bupati Temanggung Agus Setyawan hanya tersenyum tipis sembari terus berdiri tanpa alas kaki di atas semen yang mulai menghangat terpapar matahari pagi.

Pria yang akrab disapa Agus Gondrong ini menyahut pendek dengan nada santai, “Iseh panas nang alas kok (Masih lebih panas di hutan kok),” jawabnya spontan sebelum memulai sambutan dalam acara Nyadran Ageng Bhumi Phala.

Jawaban itu bukan sekadar kelakar untuk mencairkan suasana. Bagi bupati yang pernah mengabdi sebagai Kepala Desa Campurejo selama tiga periode ini, bertelanjang kaki alias nyeker seolah menjadi caranya untuk kembali “menyentuh” tanah yang selama ini menghidupi warganya. Langkah membumi ini menjadi pembuka bagi sebuah permintaan tak biasa yang ia lontarkan kepada ribuan orang yang memadati perbatasan Temanggung-Wonosobo tersebut.

Di sela pidatonya, Agus meminta keriuhan acara berhenti total. Ia mengajak hadirin untuk sejenak menepi dari hiruk-pikuk dan masuk ke dalam ruang refleksi. Tujuannya memberikan penghormatan pada alam.

“Kita sudah dianugerahi alam yang luar biasa, tanah yang sangat subur. Sepuluh detik saja, saya ingin kita heningkan suasana ini agar kita bisa merasakan syukur atas apa yang diberikan Allah SWT dan kita harus menyatu dengan alam,” ujarnya.

BACA JUGA  24 Jam Terakhir Gunung Merapi Luncurkan 12 Kali Guguran Lava Pijar Mengarah ke Kali Krasak, Bebeng dan Putih

Dalam jeda sepuluh detik yang syahdu itu, kawasan Kledung mendadak senyap. Hanya terdengar semilir angin yang melintas di antara lereng Gunung Sindoro dan Sumbing.

“Dengarkan kicauan burung, pemandangan alam gunung, angin sepoi-sepoi. Saya nyuwun sepuluh detik untuk bisa merasakan bahwa kita hanya manusia biasa,” tambahnya.

Bagi Agus, momen hening “mendengarkan suara alam” ini adalah pengingat akan hakikat manusia. Ia tidak hanya bicara soal menjaga lingkungan, tetapi juga menyelipkan pesan mendalam mengenai etika kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Ia mengingatkan bahwa segala atribut duniawi, termasuk jabatan, memiliki batas waktu.

“Di atas langit masih ada langit. Kita tidak boleh adigang, adigung, adiguna,” tegasnya, merujuk pada filosofi Jawa agar manusia tidak menyombongkan kekuatan, kekuasaan, maupun kepandaian yang dimiliki.

Ia menekankan bahwa jabatan hanyalah alat untuk menebar manfaat. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Nyadran ini sebagai perekat persatuan demi kemajuan daerah.

“Kapan waktunya jabatan lepas dari diri, kapan waktunya kita akan selesai hidup di dunia. Maka mari kita manfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Semua harus kita jadikan saudara, kita bersatu saiyeg saeka praya untuk Temanggung yang lebih bermanfaat,” pungkasnya.

Liputan: Bagus Kiswanto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *