LPBH Nahdlatul Ulama Pati Minta Polisi Evaluasi Aksi Penembakan Gas Air Mata di Masjid Baitunnur

Masyarakat menyesalkan aksi polisi menembakkan gas air mata hingga ke Masjid Agung Baitunnur Pati, Jawa Tengah, pada Rabu, 13 Agustus 2025.(foto/ist)

Pati, Poliman News – Masyarakat menyesalkan aksi polisi menembakkan gas air mata hingga ke Masjid Agung Baitunnur Pati, Jawa Tengah, pada Rabu, 13 Agustus 2025.

Video penembakan gas air mata tersebut viral di media sosial dan memicu berbagai kecaman. 

Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Pati meminta polisi melakukan evaluasi atas tindakan tersebut.

Penembakan gas air mata ke Masjid Agung Baitunnur itu terjadi saat polisi memukul mundur massa pendemo yang menuntut Bupati Sudewo mundur.

Hingga sebagian massa kemudian berlindung ke Masjid Agung Baitunnur. Namun mereka juga tidak lepas dari penembakan gas air mata.

Demo tersebut ricuh karena massa bentrok dengan polisi. Polisi memukul mundur pendemo yang ada di depan Kantor Bupati Pati dengan menembakkan water canon dan gas air mata.

Massa mundur dari depan kantor Bupati Pati dan berlarian. Sebagian kemudian masuk Masjid Baitunnur. Tetapi banyak juga warga sedang sholat dluhur.

Video yang memperlihatkan gas air mata sampai halaman masjid pun beredar di media sosial. Warga merasa terganggu, dan netizen menyoroti serta menyayangkan kejadian ini.

Ketua LPBHNU Pati Ahmad Shofwan menyayangkan tindakan aparat kepolisian yang dinilai terlalu represif, apalagi sampai menembakkan gas air mata ke area masjid, yang merupakan tempat ibadah.

“Polisi mengejar demonstran sampai ke masjid ini tentu kami sayangkan, kenapa? Karena masjid ini kan tempat ibadah, gak boleh aparat itu represif sampai ke sana. Karena di sana itu bukan hanya pendemo, kan ada orang yang mau salat,” ujar Ahmad Shofwan, Jumat (15/8/2025).

BACA JUGA  Tepis Spekulasi, KPK Benarkan Tindakan Pro-Yustisia di Kantor Pusat Bea Cukai

Shofwan menambahkan tindakan aparat membuat sejumlah masyarakat menjadi korban, termasuk ibu-ibu dan anak-anak yang hendak salat berjamaah.

Ia menilai tindakan ini berlebihan dan mengundang berbagai kecaman dari masyarakat.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *