Kulon Progo, Proliman News – Unggahan warganet soal bentuk menu MBG selama bulan ramadhan menjadi trending di berbagai media sosial.
Bukan hanya jenis menu yang asal-asalan, sekenanya, tetapi juga soal jumlah uang yang dikeluarkan untuk belanja satu pakewt MBG yang bikin miris.
Ada paket MBG dua hari terdiri dari roti warungan seharga Rp 1000 – an ditambah pisang atau telur sebutir.
“Harganya berapa ? Antara Rp 5000 samai Rp 6000 rupiah, per paket,” ujar warganet di sebuah unggahan medsos.
Lalu ada yang berisi serundeng daging dalam plastic kecil ditambah buah jeruk yang sudah kisutr dan roti Rp 500 san.
Masih banyak lagi. Silahkan anda menyimak sendiri di media sosial berbagai unggahan itu. Intinya semua protes. Semua kecewa. Dan bahkan minyta MBG distop !
Seorang wali murid SDIT di Gondang, Sragen, Jateng memprotes menu Makan Bergizi Gratis (MBG) karena sekitar 100 butir telur rebus yang dibagikan pada Senin (23/2/2026) belum matang.
Keluhan diunggah ke media sosial dan langsung ditanggapi SPPG Gondang 1 dengan permohonan maaf atas human error.
Keluhan serupa datang dari berbagai kelas di sekolah yang memiliki 336 siswa tersebut.
Legislator DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto, mengaku menerima aduan serupa dan menilai keteledoran SPPG Gondang 1 terjadi berulang.
Kepala SPPG Gondang 1, Arrizal, membenarkan kejadian tersebut akibat kesalahan tim dapur dan memastikan akan melakukan evaluasi serta memberi teguran kepada relawan.
SPPG Gondang 1 melayani 2.414 porsi MBG per hari untuk tujuh sekolah dengan 40 relawan.
Sebagai tanggung jawab, menu yang bermasalah akan diganti dengan susu full cream, serta pihak SPPG berkomitmen meningkatkan kualitas layanan.
Sementara SD Muhammadiyah 1 Temanggung, Jateng, memutuskan berhenti menjadi penerima makan bergizi gratis (MBG) buntut adanya makanan basi yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giyanti.
Kejadian ini merupakan kali kedua sekolah tersebut menerima pasokan makanan yang tidak layak konsumsi.
“Saya tetap akan menolak. Sudah trauma saya karena ini sudah kejadian yang kedua,” ucap Kepala Sekolahnya (25/2/2026).
Liputan : Berbagai Sumber



