– Di tengah derasnya arus modernisasi, seni tradisi jaran kepang atau kuda lumping masih terus bertahan dan berkembang di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Salah satunya melalui tangan Supriwanto (40), perajin jaran kepang dari Sanggar Kandang Jaran, Dusun Kembang, Desa Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo, yang mampu membawa kerajinan bambu tersebut menembus pasar mancanegara.
Supriwanto tidak hanya membuat jaran kepang sebagai properti kesenian, tetapi juga berupaya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan keluarganya selama tiga generasi. Ia merupakan generasi ketiga penerus usaha keluarga yang dirintis sang kakek sejak 1931 dan kemudian dilanjutkan oleh ayahnya pada 1971.
Menariknya, menjadi perajin jaran kepang bukanlah cita-cita Supriwanto sejak awal. Ia memilih meneruskan usaha tersebut setelah mendapat amanah dari sang ayah sebelum meninggal dunia untuk menjaga warisan budaya leluhur agar tidak terputus.
“Kalau boleh jujur, sebenarnya saya dulu enggak ada kerentek (keinginan) untuk meneruskan. Saya murni menjalankan wasiat dari orang tua untuk melestarikan warisan budaya leluhur agar tidak terputus,” ujar Supriwanto saat ditemui di sanggarnya, Senin (31/8/2026).
Sejak 2010, terutama setelah menikah, Supriwanto mulai menekuni pembuatan jaran kepang secara lebih serius. Ia memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produknya sehingga pasar yang semula hanya berada di sekitar Temanggung kemudian meluas ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Karyanya bahkan telah dipesan konsumen dari Malaysia. Selain itu, jaran kepang buatannya juga dibeli wisatawan asal Prancis dan Australia untuk dijadikan pernak-pernik atau suvenir.
Saat ini, Sanggar Kandang Jaran mampu memproduksi sekitar 13 hingga 17 jaran kepang berukuran besar setiap bulan untuk kebutuhan pementasan tari. Sementara untuk jaran kepang mainan, produksinya mencapai sekitar 100 buah setiap pekan yang kemudian dipasarkan melalui grosir di wilayah Wonosobo dan Magelang.
Harga produk yang dibuat Supriwanto bervariasi sesuai ukuran, fungsi, bahan, dan tingkat kerumitan pengerjaan. Jaran kepang mainan anak-anak dibanderol mulai Rp35.000 per buah, sedangkan jaran kepang untuk kebutuhan tari profesional berkisar Rp600.000 hingga Rp6 juta, khususnya untuk produk custom yang menggunakan bulu kuda asli.
Mempertahankan Ciri Khas Temanggungan
Menurut Supriwanto, jaran kepang khas Temanggung memiliki karakteristik yang membedakannya dari produk sejenis di daerah lain. Salah satunya terletak pada penggunaan bambu apus yang memiliki karakter kuat dan lentur sehingga menghasilkan jaran kepang yang kokoh.
Dari sisi bentuk, jaran kepang Temanggungan cenderung berukuran lebih kecil dengan pilihan warna yang berani dan beragam. Ciri lainnya terlihat pada bentuk kaki depan kuda yang dibuat menekuk sebagai simbol olah kanuragan atau penggambaran prajurit yang siap berperang.
“Di Temanggung itu seni jaran kepang lebih mengedepankan unsur kreasi dan pertunjukan seni, bukan sekadar atraksi atau kesurupan. Pementasannya dikemas menarik layaknya sebuah sendratari atau konser,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, Supriwanto tidak bekerja seorang diri. Ia menggarap produksi bersama istrinya, Ayu Ismilatun, serta sejumlah mitra lokal yang terlibat dalam proses pembuatan hingga pemasaran.
Di balik perkembangan usahanya, Supriwanto tetap berupaya menjaga pesan leluhur agar kesenian tradisional tidak sekadar menjadi produk komersial, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal jaran kepang melalui media sosial, tetapi juga mau belajar secara langsung kepada para pelaku seni dan perajin yang memahami tradisi tersebut dari sumbernya.
“Harapan saya, generasi yang akan datang mau belajar dan mempertahankan warisan budaya leluhur ini. Jangan sampai mereka hanya paham secara instan lewat media sosial saja, tapi belajarlah langsung ke sumbernya agar tidak salah paham tentang keindahan seni tradisi kita,” ujarnya.
Senada dengan itu, seniman dan pemerhati jaran kepang asal Desa Muntung, Dian Rasya, mengapresiasi karya Supriwanto yang dinilai memiliki nilai seni tinggi sekaligus kekuatan dan ketahanan yang baik.
Menurut Dian, kualitas tersebut tidak lepas dari pemilihan bahan bambu serta ketelitian dalam proses pembuatannya sehingga menghasilkan jaran kepang yang rapi, kuat, dan memiliki pewarnaan yang halus.
“Jaran kepang karya Supriwanto mempunyai nilai seni yang tinggi dan lebih kuat karena dibuat dari bahan bambu pilihan. Pengerjaannya juga rapi, kuat, dan pewarnaannya halus,” kata Dian.
Kualitas tersebut membuat sejumlah kelompok seni jaran kepang memilih memesan properti pertunjukan kepada Sanggar Kandang Jaran meskipun harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan produk sejenis.
Bagi Supriwanto, pesanan yang terus berdatangan bukan sekadar ukuran keberhasilan usaha, melainkan juga menjadi bukti bahwa warisan budaya leluhur masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Melalui bambu, warna, dan bentuk kuda yang dikerjakannya dengan tangan, ia berusaha memastikan jaran kepang Temanggungan tetap hidup, berkembang, dan dikenal hingga ke luar negeri.
Liputan: Nadhifa Zara



