Surabaya, Proliman News – Muhammad Soleh (22 tahun) adalah seorang santri dari Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, asal Tanjung Pandan, Bangka Belitung.
Di mata teman-temannya Soleh dikenal sebagai sosok yang ramah, tekun, dan penuh dengan cita-cita.
Meskipun sudah terbilang dewasa untuk ukuran santri, Soleh memiliki semangat belajar yang luar biasa.
Ia tidak hanya fokus pada kegiatan mengaji dan syariat di pondok, tetapi juga menempuh pendidikan sebagai mahasiswa di kampus yang dikelola oleh pesantren.
Ia membagi waktunya dengan padat, antara tugas kuliah dan kewajiban mengaji. Ketekunan ini menjadikannya teladan bagi adik-adik kelasnya.
Pada hari Senin sore, ketika musibah melanda, Soleh sedang menunaikan kewajiban terbesarnya shalat Ashar berjemaah bersama ratusan santri lain di musala pondok.
Tanpa peringatan,bangunan musala yang baru digarap itu tiba-tiba ambruk dengan suara gemuruh.
Soleh, yang berada di dalam bangunan, ikut tertimpa material beton dan besi. Ia terperangkap dan mengalami luka yang sangat parah.
Setelah berhasil dievakuasi dari reruntuhan, kondisi Soleh termasuk yang paling kritis dan langsung ditempatkan di zona merah rumah sakit.
Ia mengalami luka berat dengan patah tulang panggul hingga ke bawah, dan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Meskipun tim medis telah berjuang keras memberikan perawatan intensif untuk menyelamatkan nyawanya, takdir berkata lain.
Setelah sempat menjalani perawatan, Muhammad Soleh akhirnya menghembuskan napas terakhir pada hari Selasa pagi, menyusul korban meninggal dunia lainnya.
Kepulangan penuh duka dengan kabar kepergian Soleh menjadi duka mendalam bagi keluarga dan seluruh warga pesantren.
Jenazahnya kemudian dipulangkan ke kampung halamannya di Tanjung Pandan, Bangka Belitung, diiringi tangis haru keluarga besar dan kerabat.
Bagi keluarga dan sahabat di Al Khoziny, Soleh akan selalu dikenang sebagai syuhada musibah, seorang santri muda yang pergi dalam keadaan terbaik, di tengah ketaatannya menunaikan ibadah, meninggalkan warisan ketekunan dan kesalehan.
Liputan : Reinaldy Dwi



