Cilegon, Proliman News – Dua bulan terakhir nama Haji Akhmad Basuki (58) mendadak menjadi perbincangan publik di berbagai pelosok Kabupaten Kulon Progo.
Ia konon merupakan salah satu tokoh dengan predikat lumayan populer diantara sejumlah tokoh yang bakal mengikuti ajang Pemilihan Bupati – Wakil Bupati Kulon Progo 2024, bulan November mendatang.
Siapa sejatinya Akhmad Basuki, hingga sedemikian menghipnotis publik Kabupaten Kulon Progo ?
Akhmad Basuki ternyata asli anak desa. Ia lahir dan besar di Dusun Pundak, Kembang, Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.
Ia juga menyelesaikan pendidikan sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas ( SMA ) di Kulon Progo, sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UNS Solo, dan Fakultas Teknik Mesin UNDIP Semarang.
“Tahun 1985 saya diterima di Jurusan Akuntasi UNS Solo. Di UNS hanya dua semester, karena tidak betah. Saya kan dari jurusan IPA, maka tahun 1986 saya kembali mengikuti Sipenmaru dan diterima di Jurusan Mesin Fakultas Teknik UNDIP Semarang,” katanya saat ditemui di kantornya Cilegon Jawa Barat.
Sejak masuk UNDIP Semarang tahun 1986 itulah, Akhmad Basuki menempa diri menjadi mahasiswa yang mandiri, mencari uang sembari kuliah, hingga kuliahnya sedikit terhambat.
“Maklum, saya berasal dari keluarga pas-pasan, ibu saya hanya seorang guru SD, bapak saya anggota TNI AU pangkat rendahan, penghasilan orang tua tidak cukuplah untuk biaya hidup di Semarang, saat itu,” ujarnya.
Bayangkan, setiap bulan ia mengaku hanya mendapat jatah Rp 20.000 untuk bekal hidup sebulan di Semarang.
“Bahkan setiap mau balik ke Semarang, saya harus ikut unduh-unduh ( memanen kelapa ). Agar bisa mengantongi uang Rp 20.000 harus unduh-unduh 200 butir kelapa. Berat kan ? Nyata itu,” tegasnya.
Maka Akhmad Basuki muda harus memutar otak agar bisa memenuhi kebutuhan hidup di kota besar sekaligus biaya kuliah.
“Prinsip saya, yang penting bekerja. Bekerja apa saja yang penting bener, halal, pasti ada jalan. Saya ini nggak bodo – bodo banget, lumayanlah untuk pelajaran matematika, kimia fisika. Maka saya ikut melamar sebagai guru bimbingan belajar di Primagama. Lolos,” katanya meyakinkan.
Saking semangatnya mencari uang, ia bahkan mengambil job 40 jam mengajar per minggu, dan masih harus mengajar les privat 12 orang anak.
“Kebetulan yang saya privat itu anak orang – orang kaya, pejabat, seperti putranya Pak Nyoman Direktur Keuangan Jratun Seluna, lalu anaknya bos Rokok Sukun ada juga anaknya Kepala RSUD Pati Jateng, ya pejabat-pejabat gitu,” kata Akhmad Basuki.
Berkat kerja kerasnya, Akhmad Basuki naik kelas dari pemuda ndeso yang pas-pasan melenting menjadi mahasiswa kaya, dengan penghasilan Rp 2,2 juta sebulan minimal, pada tahun 1989.
Tentu perjalanan hidup tidak seluruhnya mulus. Karena bekerja keras mencari biaya hidup, kadang Akhmad Basuki kehabisan tenaga untuk kuliah. Maka akhirnya ia harus lulus sedikit lamban.
“Tetapi saya tetap bertekad, kuliah harus lulus, terutama untuk membanggakan kedua orang tua dan bekal hidup saya ke depan. Alhamdulillah, tahun 1995 saya lulus teknik mesin,” katanya.
Sejak itulah Akhmad Basuki mulai memasuki dunia nyata, bekerja di sebuah perusahaan swasta, sembari merintis perusahaan kontraktor enginering meski hanya bermodal semangat dan tekad bulat.
“Saya bahkan memulai dari minus artinya modal pinjaman. Tetapi saya optimis, saya pasti bisa. Doa saya hanya satu, semoga ditunjukkan jalan lurus, dan diberi kemudahan. Itu saja,” ujarnya.
Doanya yang tak putus, kini Akhmad Basuki memiliki 8 perusahaan yang bergerak diberbagai bidang. Mulai dari kontraktor enginering hingga bisnis batubara.
“Alhamdulillah, semua berjalan baik. Kami berprinsip, karyawan adalah teman berjuang, pekerja adalah guru kami di lapangan. Saat proyek untung, maka mereka harus lebih merasakan keuntungannya,” ujarnya lirih.
Akhmad Basuki, lulus dari SD Negeri Pundak Kembang, Nanggulan, Kulon Progo, tahun 1978, lalu tamat dari SMP Negeri Jatisarono Nanggulan, Kulon Progo tahun 1982, dan lulus SMA Ploso Sentolo, Kulon Progo tahun 1985.
Kini Akhmad Basuki bukan lagi bocah ndeso yang pas-pasan, karena ia adalah pemilik sejumlah perusahaan besar di Cilegon Jawa Barat.
Meski demikian Akhmad Basuki tetaplah bocah ndeso, dengan segala kesederhanaannya. Saking sederhanya, ia mengaku hanya memiliki 7 stel pakaian, dan dua pasang sepatu sport.
Maka tidak heran, kemanapun ia pergi pakaian dinasnya hanya kaos dan celana jeans. Akhmad Basuki sang senantiasa merendah, senang berkumpul masyarakat pinggiran, dan jauh dari kesan seorang bos.
“Hidup ini apa yang kita cari ? Doa saya hanya sepuluh tetapi allah memberi seratus. Itu yang saya rasakan. Maka duit bukan segalanya, hidup itu berbagi, berteman, maslahat, manfaat, itu nikmat,” katanya.



