​Pemanfaatan Elektrifikasi hingga Drone Dongkrak Produktivitas 200 Hektare Lahan Bawang di Bantul

​Pemanfaatan Elektrifikasi hingga Drone Dongkrak Produktivitas 200 Hektare Lahan Bawang di Bantul. (Foto/Dok)

Bantul, Proliman News — Para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus melakukan inovasi di sektor pertanian. Lewat pemanfaatan beragam teknologi modern, mereka berhasil mengoptimalkan penggarapan lahan bawang merah seluas 200 hektare.

​Ketua Gapoktan Kalurahan Parangtritis, Kadiso, mengungkapkan bahwa modernisasi ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional sekaligus meningkatkan keuntungan para petani secara nyata.

​Salah satu terobosan utama yang diterapkan petani di Dusun Bulak Bungkus ini adalah elektrifikasi pada sistem penyiraman tanaman. Dengan mengalihkan mesin pompa air dari bahan bakar minyak (BBM) ke energi listrik, efisiensi operasional melonjak drastis.

​”Penggunaan pompa listrik ini sangat memperingan pekerjaan petani. Biaya penyiraman bisa kita pangkas hingga 88 persen jika dibandingkan dengan pompa BBM,” ujar Kadiso di Bantul, Minggu (23/8/2026).

​Selain sistem penyiraman, elektrifikasi juga dimanfaatkan untuk mengoperasikan light trap—alat perangkap hama berbasis lampu yang ramah lingkungan. Perangkat murah meriah ini dipasang di tengah lahan untuk menarik dan membasmi hama sebelum sempat bertelur di tanaman bawang.

​Tak berhenti di situ, para petani mulai mengadopsi teknologi pesawat nirawak (drone) untuk pencegahan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Penggunaan drone dinilai hemat waktu serta menekan kebutuhan tenaga kerja.

​”Penggunaan drone ini sangat efisien. Saat ini armada drone masih kami pinjam dari Maksitani, dan harapannya ke depan para petani bisa memiliki drone sendiri,” tambah Kadiso.

​Keberhasilan pertanian di kawasan Parangtritis ini juga didukung oleh kedisiplinan petani dalam menerapkan pola tanam serentak yang dikombinasikan dengan sistem tumpangsari cabai.

​Sinergi antara pemanfaatan teknologi modern dan manajemen tanam yang terukur ini membuahkan hasil memuaskan. Rata-rata produksi bawang merah di kawasan ini mampu mencapai 21 ton per hektare dalam kondisi bersih terkemas (tanpa daun dan akar).

​”Dengan rata-rata 21 ton bersih per hektare untuk total lahan seluas 200 hektare, potensi total hasil panen di sini sangat luar biasa,” pungkasnya.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner
BACA JUGA  Pengadaan Tanah Tol Solo–Yogyakarta–Kulon Progo Berlanjut, UGR Rp46,9 Miliar Cair untuk 9 Bidang di Sleman

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *