Kulon Progo, Proliman News – Jembatan Pandansimo besuk pagi dibuka untuk lalu lintas umum. Biaya proyek ini setara dengan separo APBD Kulon Progo 2025.
Jembatan Pandansimo terindah di Jawa ini seperti tidak diimbangi dengan penataan kawasan sekitarnya, dimana banyak akses jalan rusak berat bahkan jalur menuju jembatan ini dari arah barat masih gelap gulita.
“Tidak ada yang berubah wajah sisi barat jembatan ini sampai Jembatan Pandansimo dibuka untuk lalu lintas umum besuk pagi. Pemda Kulon Progo sepertinya no respon,” ujar Mulyono Hadi, pengamat ekonomi.
Pemda Kulon Progo sepertinya tidak sampai berfikir bahwa anggaran pembuatan jembatan ini sebesar setengah APBD Kulon Progo, sehingga tidak weak up sejak jembatan ini dibangun.
“Ya mau gemana lagi, tidak bisa dipaksakan. Ini soal resposibilty pemimpin lokal kok, kalau tidak menggagas sampai di situ ya dianggap ini barang sepele,” katanya.
Mulyono Hadi memaparkan bahwa, setengah anggaran APBD Kulon Progo 2025 iru Rp870.927.901.934,00. dari total APBD Rp1.741.855.803.868,00,
“Sehingga setengahnya adalah sekitar Rp870.927.901.934,00. Namun, perlu diingat bahwa angka ini adalah proyeksi dan dapat berubah karena adanya kebijakan anggaran atau perubahan dana transfer dari pusat, seperti yang terjadi pada APBD 2026. Ini contoh saja,”katanya.
Logika yang harus dibangun mestinya bagimana perekonomian di wilayah selatan Kulon Progo ini bisa mencapai Rp 864 miliar setara dengan biaya yang digunakan untuk membangun jembatan.
Jika tidak ada upaya itu maka, pembangunan jembatan indah ini hanya seperti keluarga miskin mendapat hadiah televisi berwarna terbaru tetapi listriknya tidak kuat.
“Kita pernah mendengar dulu daerah penghasil tembakau itu karena kaya raya bisa membeli lemari es, atau televisi tetapi rumahnya tidak ada lisltrik, ya tidak berguna selain gaya-gayaan,” ujarnya.
Nah sekarang ini jembatan senilai separo APBD Kulon Progo tidak diimbangi dengan berbagai kegiatan perekonomian yang mendukung inputnya mencapai Rp 864 miliar. Maka sama saja bohong.
“Ibaratanya keluarga miskin mendapat hadiah televisi warna terbaru tetapi listriknya tidak cukup, hanya 450 watt, maka buat apa. Kan sejak awal mestinya mikir harus punya jaringan listrik minimal 900 watt, lalu punya antene, atau parabola lalu punya tempat untuk menikmati siaran luar negeri, kan begitu,” ujarnya.
Bisa jadi katanya, sekarang mulai berbenah, lalu dilakukan berbagai perombakan kebijakan, seperti kawasan dengan DED perdagangan dan industri atau pemukiman di sepanjang jalur ini. Agar perizinan industri di wilayah ini ke depan tidak bermasalah.
“Nggak ada kan perombakan DED untuk kawasan industri atau perdagangan di sepanjang jalur ini ? Ya bagaimana bisa sinkron antara indahnya jembatan dan perekonomian kalau tidak dilakukan,” tambahnya.
Liputan : Suyono Sugondo



