Yogyakarta, Proliman News — Pakar mitigasi bencana dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman gempa bumi serta aktivitas vulkanik. Tingginya dinamika tektonik di Indonesia menuntut pendekatan mitigasi yang tidak lagi berfokus pada tanggap darurat semata, melainkan pencegahan dan penguatan kapasitas komunitas secara konsisten.
Ancaman Geologis yang Konstan
Posisi geografis Indonesia yang berada di jalur perlintasan lempeng tektonik dan cincin api (Ring of Fire) menjadikan ancaman gempa serta erupsi gunung api sebagai realitas yang harus dihadapi. Pakar menegaskan bahwa ketidakpastian waktu terjadinya bencana tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kewaspadaan.
“Potensi bencana geologi di wilayah kita sifatnya konstan dan memiliki pola yang berulang. Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh bersifat musiman. Pemahaman risiko harus ditanamkan menjadi budaya sehari-hari masyarakat,” tegas pakar UGM dalam keterangannya.
Pilar Utama Penguatan Kesiapsiagaan
Guna meminimalkan dampak kerugian jiwa dan material, pakar merumuskan beberapa aspek kunci yang perlu segera diakselerasi oleh pemerintah dan pemangku kepentingan terkait:
- Infrastruktur Tahan Bencana: Penerapan standar bangunan tahan gempa (seismic-resistant building) pada hunian warga dan fasilitas publik secara ketat.
- Edukasi dan Simulasi Rutin: Pelatihan evakuasi mandiri yang menyasar level keluarga, sekolah, hingga ruang kerja guna membangun refleks kebencanaan.
- Integrasi Sistem Peringatan Dini: Pemeliharaan alat pemantau (sensor) secara berkala serta penyebaran informasi yang cepat, terukur, dan tidak memicu kepanikan.
- Penataan Ruang Berbasis Risiko: Penegakan aturan zonasi wilayah rawan bencana untuk membatasi pemukiman di area berisiko tinggi.
Komunitas sebagai Ujung Tombak Resiliensi
Pakar menekankan bahwa sistem mitigasi paling efektif bermula dari tingkat tapak. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan yang memadai mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, dan tata cara pertolongan pertama, angka kerentanan dapat ditekan secara signifikan sebelum bantuan medis atau relawan tiba di lokasi terdampak.
Liputan: Galang Andika Pratama



