Ribuan Umat Buddha Ikuti Kirab Asalha Mahapuja dari Mendut ke Borobudur

Ribuan Umat Buddha Ikuti Kirab Asalha Mahapuja dari Mendut ke Borobudur. (Foto/Dok)

Magelang, Proliman News — Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti prosesi kirab dalam rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2570 BE/2026, Minggu (26/7). Dengan khidmat, para peserta berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sejauh sekitar tiga kilometer sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha.

Prosesi kirab berlangsung meriah dengan diiringi empat Kereta Kencana yang membawa simbol-simbol penting ajaran Buddha, yakni Kereta Kencana Mahadhatu, Kereta Kencana Tipitaka, Kereta Kencana Dhammacakka, dan Kereta Kencana Stambha Vijaya.

Kirab diikuti para bhikkhu, bhikkhuni, samanera, samaneri, serta ribuan umat Buddha. Setibanya di kompleks Candi Borobudur, rombongan memasuki kawasan melalui Gerbang Kalpataru, kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri Marga Utama hingga berakhir di Taman Lumbini.

Humas ITC dan Asalha Mahapuja 2570 BE/2026, Totok Tejamano, menjelaskan bahwa perayaan Asalha Mahapuja merupakan hari raya besar umat Buddha yang diperingati dua bulan setelah Hari Raya Waisak.

“Di kalangan umat Buddha terdapat empat hari raya besar, yaitu Waisak, Asadha, Kathina, dan Magha Puja. Tahun ini Hari Raya Asadha jatuh pada Rabu, 29 Juli 2026,” ujarnya.

Menurut Totok, Hari Raya Asadha memperingati momen ketika Buddha Gautama pertama kali membabarkan Dhamma kepada lima pertapa di Taman Rusa Isipatana. Karena itu, berbagai simbol yang dihadirkan dalam kirab memiliki makna historis dan spiritual.

Salah satu simbol utama adalah Dhammacakka atau roda Dharma yang melambangkan dimulainya penyebaran ajaran Buddha.

“Dhammacakka berarti roda Dharma. Simbol ini menggambarkan saat pertama kali Guru Agung Buddha Gautama memutar roda Dharma melalui khotbah pertamanya,” jelasnya.

Selain Dhammacakka, kereta yang membawa Mahadhatu, Tipitaka, serta Stambha Vijaya juga menjadi bagian penting dari prosesi sebagai simbol penghormatan terhadap peninggalan suci dan ajaran Buddha.

Totok memperkirakan jumlah peserta kirab mencapai sekitar 12 ribu umat Buddha, yang berasal dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, serta sejumlah daerah lainnya di Indonesia.

Ia menambahkan, kirab tersebut merupakan bagian dari puja yatra, yakni perjalanan spiritual yang bermakna penghormatan.

“Puja berarti penghormatan, sedangkan yatra berarti perjalanan. Jadi ini adalah perjalanan penghormatan kepada Tiratana, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha, dengan Borobudur sebagai salah satu simbolnya,” katanya.

Selama perjalanan, para peserta melafalkan Buddhanussati, Dhammanussati, dan Sanghanussati, yakni paritta yang berisi perenungan terhadap kualitas Buddha, Dharma, dan Sangha.

“Kirab ini bukan sekadar arak-arakan, tetapi perjalanan meditatif. Seluruh peserta diajak berjalan dalam suasana hening sambil merenungkan nilai-nilai Buddha, Dharma, dan Sangha,” tutur Totok.

Kirab yang melintasi Candi Mendut, Candi Pawon, hingga Candi Borobudur itu juga menjadi daya tarik bagi masyarakat yang memadati sepanjang jalur perjalanan.

Salah seorang warga Mendut, Sri Sayekti Setyowati (67), mengaku rutin menyaksikan prosesi tersebut. Menurutnya, kirab menjadi sarana edukasi bagi generasi muda sekaligus memperkuat sikap toleransi antarumat beragama.

“Supaya anak-anak tahu dan belajar saling menghargai meskipun berbeda agama,” ujarnya.

Liputan: Nadhifa Zara

Deskripsi Banner
BACA JUGA  Fenomena Musim Kemarau: Mengintip Potongan Sejarah Wonogiri yang Terbenam di Dasar WGM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *