Rupiah Kian Terpuruk, Dekati Level Psikologis Baru Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah terus menunjukkan volatilitas yang tinggi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Setelah sempat mencetak rekor terburuknya di awal Juni dengan menjebol angka Rp18.114 hingga Rp18.132 per dolar AS (berdasarkan data Bloomberg), kini rupiah bergerak di kisaran Rp17.980 per dolar AS. (Foto/Google)

Yogyakarta, Prolimannews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren melemah yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data pasar spot pada Kamis (11/06), mata uang Garuda jatuh ke posisi Rp17.980 per dolar AS, hanya terpaut tipis dari level psikologis baru sebesar Rp18.000.

Posisi ini sebetulnya sedikit membaik setelah sebelumnya pada awal Juni, rupiah sempat mencetak rekor terburuknya. Menurut data Bloomberg, pada perdagangan global Jumat (05/06) hingga Senin (08/06), tekanan hebat sempat membuat rupiah ambles hingga dolar AS melambung tinggi menembus kisaran Rp18.114 hingga Rp18.132 per dolar AS.

Grafik pergerakan dalam satu bulan terakhir menunjukkan tren penguatan dolar AS yang konsisten secara bertahap sejak pertengahan Mei, dengan puncaknya terjadi pada awal pekan Juni sebelum akhirnya tertahan di level Rp17.900-an. Pelemahan rupiah yang ekstrem dan sempat menjebol angka Rp18.100 ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar dan masyarakat, mengingat dampaknya yang akan langsung terasa pada sektor riil dan stabilitas harga barang pokok di dalam negeri. Hingga berita ini diturunkan, volatilitas pasar masih sangat tinggi, dan publik mulai mempertanyakan langkah intervensi taktis apa yang akan diambil oleh Bank Indonesia guna meredam kejatuhan nilai mata uang nasional ini.

Pelemahan rupiah hingga sedalam ini—terutama setelah sempat mencetak rekor buruk di kisaran Rp18.114 hingga Rp18.132 pada awal Juni—membawa efek domino yang cukup masif bagi perekonomian Indonesia, yang terbagi ke dalam sisi kerugian maupun keuntungan.

BACA JUGA  Partisipasi Kuliah Anak Jogja Naik 46 Persen, DPRD DIY Soroti Kerentanan Ekonomi dan Risiko Putus Sekolah

Dari sisi negatif, lonjakan nilai dolar AS yang agresif ini akan langsung memicu kenaikan harga barang impor atau imported inflation di tingkat konsumen. Masyarakat harus bersiap menghadapi kenaikan harga pada komoditas pangan pokok yang masih bergantung pada impor seperti gandum dan kedelai, hingga barang-barang manufaktur seperti elektronik dan otomotif.

Bagi sektor industri, situasi ini sangat mencekik karena biaya operasional pabrik yang mengandalkan komponen atau bahan baku luar negeri akan membengkak drastis, yang pada akhirnya berisiko memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, beban utang luar negeri milik pemerintah maupun korporasi swasta dipastikan membengkak saat dikonversikan ke rupiah, serta adanya risiko kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia yang berpotensi membuat cicilan kredit masyarakat menjadi jauh lebih mahal.

Di balik tekanan berat tersebut, situasi volatilitas ini di sisi lain membawa angin segar bagi para pelaku ekspor dan sektor pariwisata nasional.

Komoditas unggulan Indonesia yang dijual ke pasar internasional, seperti kelapa safe/sawit, batu bara, tekstil, dan hasil kerajinan, akan mendatangkan windfall atau keuntungan yang jauh lebih besar saat pendapatan dolar mereka dikonversikan kembali ke mata uang rupiah yang sedang melemah.

Selain itu, sektor pariwisata berpotensi mengalami gairah baru karena nilai tukar yang rendah membuat biaya akomodasi dan pelesiran di Indonesia menjadi jauh lebih murah bagi wisatawan mancanegara, yang diharapkan mampu mempercepat perputaran ekonomi dan mengalirkan valuta asing langsung ke daerah-daerah destinasi wisata utama.

BACA JUGA  Joko Purnomo: Bank Kulon Progo Tetap Konsisten Menjadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *