Yogyakarta, Proliman News – Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Sabrang Mowo Damar Panuluh, menegaskan bahwa MBG bukan program politik pemerintah, melainkan program negara untuk bangsa.
“Jangan dipikir ini program politik. Ini program negara untuk bangsa,” kata Sabrang dalam sebuah majelis, yang dirilis oleh sebiuah akun medsos.
Ia menjelaskan, alasan paling sederhana MBG tidak bisa disebut program politik adalah karena penerima manfaatnya belum bisa nyoblos di Pemilu.
“Yang dikasih makan belum bisa nyoblos. Jadi jangan dipikir ini program politik,” ujarnya.
Menurut Sabrang, MBG adalah bentuk intervensi negara jangka panjang untuk menyiapkan masa depan bangsa.
Negara hadir memastikan generasi muda tumbuh sehat, karena di situlah fondasi peradaban dibangun.
“Menyehatkan generasi muda itu program siapa? Pemerintah, negara, atau bangsa?” kata Sabrang.
Karena itu, ia mengingatkan agar MBG tidak diseret ke ribut-ribut politik.
“Ini untuk kelangsungan bangsa. Negara butuh generasi yang kuat untuk membangun negara yang lebih kuat,” pungkasnya.
Pernyataan Sabrang Mowo Danar Panuluh inipun langsung dihajar warganet dengan berbagai komentar menyengat.
Pipit Bayu Nugroho, menyatakan bahwa gentengisasi juga bukan program politik. Genteng kan nggak bisa nyoblos di pemilu.
Rhomandika Cahyo Nugroho, mengatakan, bahwa program ini namanya adaptasi politik.
“Tidak bisa nyoblos? Penerima manfaat yg jenjang SMA SMK itu saat ini berumur sekitar 16 – 18 tahun, yang 16 tahun di 2029 wes punya hak suara,” katanya.
Yang jenjang SMP / MTs saat ini berumur sekitar 13 – 15 tahun, yang umur 14 – 15 tahun 3 tahun lagi mereka wes punya hak suara
Bams menyatakan ini namanya program investasi jangka panjang untuk menghancurkan negara. APBN untuk MBG hanya berakhir di WC, kurang optimal.
Heru Ajj menuliskan, fakir miskin dan anak terlantar itu sudah kewajiban negara untuk mensejahterakannya. jadi harusnya biaya pendidikan yg harus diprioritaskan agar bisa terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah,kalau memang ingin mencerdaskan anak bangsa.
Novi Sahlan Wibowo memberi komentar pendek di medsos.
“Sabrang akhirnya Nyebrang,” tulisnya sangat pendek.
Rauf Toha, memberi penjabaran, bahwa pekerja MBG, SPPG, Suplayer bisa mencoblos, yang jumlahnya ribuan tersebar se Indonesia, dan ini signifikan!!
Tarsono Nurkhadi memberi paparan agak panjanga menanggapi pernyataan Sabrang.
“Memang buka program Politik, tetapi dalam kampanye untuk Bisa terpilih program politik ungulanya adalah MBG, Sedangkan, MBG adalah bukan program masa depan lebih maju, Kalau rakyat beri pendidikan yang baik dan gratis pasti akan maju di banding di beri makan,” tulisnya.
Toko Sinar Tani menambahkan, dengan memb eri statemen, Tapi kenapa Pengelola SPPG dari partai, tim sukses dan aparat
Paklek Pakde Orban, menyatakan, 2029 mungkin 50% dari penerima MBG sekarang adalah pemilih pemula. Dan itu pasti akan dijadikan bahan untuk ‘kampanye
Kiddie Al Baihaqi menyatakan, “Saya kira cerdas. Orang cerdas selalu rasional relasiensi. Ternyata sekedar segmentasi. Politik sekedar urusan NYOBLOS ?,” katanya.
Bang Jun Simanjuntak menyatakan ternyata, “Jabatan bisa mematikan nurani dan nalar,” tulisnya.
Noyaharak W Huget memaparkan, bahwa dari keseluruhan anggaran MBG, nilai makanan hanya maksimal 5% yang sampai ke siswa yang tidak punya hak pilih.
Tetapi 90% anggaran beredar di parcok, parjo, partai, simpatisan, yayasan petinggi negara, legislatif, kader partai dan kerabatnya.
Ada juga 5% ransum MBG diterima siswa dan rakyat yang punya hak pilih.
Ini primata perlu diberi makan MBG setiap hari agar paham dengan baik hubungan antara nilai makanan vs anggaran.
Liputan : Suyono Sugondo



