Yogyakarta, Proliman News – Suatu pagi di Kota Semarang, Jawa Tengah, dilakukan lounching Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jalan Sriwijaya, Balekambang.
BPR ini berkantor di sebuah gedung yang cukup mewah sekitar tahun 1990. Kwik Kian Gie, dengan gayanya yang dingin namun merakyat datang tanpa penyambutan.
Saya kenal Kwik Kian Gie sebagai ekonom yang menawan untuk diikuti. Pandangannya nasionalis, idiologinya marhaenis dan perilakunya merakyat.
Saya berkesempatan melakukan obrolan ringan tentang fungsi BPR dan managemen bank untuk rakyat. Bukan bank sebagaimana kita tahu sekarang ini.
Menyimpang dari BPR, Kwik Kian Gie mengajak saya untuk mengunjungi kawasan miskin di Kedung Ombo, Sragen, Jawa Tengah.
Ia ingin ada BPR di kawasan itu, sebagai lembaga keuangan rakyat asli, yang mudah murah tetapi tetap berbisnis sebagaimana bank.
Saya merasa mendapat kehormatan untuk bisa menyertai Kwik Kian Gie berbincang tentang BPR, kondisi rakyat miskin dan cara mengatasinya.
Itu sepotong kenangan yang teringat saat mendapat berita meninggalnya Kwik Kian Gie, Selasa (29/7/2025) pagi.
Saya ingat ketika saya memberanikan diri untuk telpon Kwik Kian Gie pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB, dalam kapasitas saya sebagai wartawan ecek-ecek di Semarang.
Alangkah kagetnya saya, ketikatelpon diterima oleh putrinya dan menmgatakan bahwa saya diminta menunggu barang 20 menit untuk kemudian menelpon kembali.
“Maaf, 20 menit lagi nelpon ya. Bapak sedang main ke tetangga,” begitu katanya.
Sebentar kemudian saya menelpon kembali, untuk melakukan wawancara tentang inflasi, tentang pajak, dan ekonomi Indonesia.
Sebagai seorang Menteri Perekonomian sungguh luar biasa, masih ada waktu main ke tentangga, dan masih bersedia menerima telpon dari wartawan ecek-ecek seperti saya.
Terimaksih Pak Kwik Kian Gie, Selamat Jalan banyakilmu yang kau berikan untuk kami rakyat Indonesia.
Penulis : Suyono Sugondo



