Kulon Progo, Proliman News – Alih-alih merayakan kelulusan dengan aksi corat-coret atau konvoi di jalanan, para murid kelas 6 SD Kanisius Kenalan Borobudur Magelang Jawa Tengah memilih cara yang unik sekaligus mendalam untuk mensyukuri selesainya masa belajar mereka. Pada Rabu (10/6/2026),
Mereka menggelar aksi “Sujud Banyu”, sebuah ritual ngabekti atau penghormatan terhadap sumber mata air Belik Gedhe di Dusun Plengan, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DIY.
Aksi yang penuh khidmat ini diawali dengan berjalan kaki bersama sejauh 1 kilometer dari sekolah menuju lokasi mata air. Sesampainya di sana, para siswa langsung bergotong-royong membersihkan area sekitar Belik Gedhe yang dinilai semakin tidak terawat jika dibandingkan dengan kondisi saat pengamatan mereka pada Maret lalu.
Tak sekadar membersihkan, para murid juga melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan dengan menanam dua pohon aren dan dua pohon bibis. Hebatnya, tanaman-tanaman tersebut dipupuk menggunakan pupuk kandang hasil produksi komunitas Wiji Thukul, yang merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler pertanian di sekolah mereka.
Puncak dari aksi ini adalah ritual doa Sujud Banyu. Para murid bersujud di sekitar belik dengan tangan kanan menyentuh permukaan air secara langsung. Di bawah rimbunnya pepohonan, bait-bait doa syukur dideklamasikan dengan lantang:
“Engkau menurunkan hujan ke atas bumi sehingga bumi menghasilkan kehidupan. Kami memuji Dikau untuk karunia Air. Ciptakan dalam diri kami rasa kagum dan berterima kasih atas karunia air dan segala karunia lain! Sehingga kami menerimanya dengan rasa Syukur, menjaganya dengan penuh rasa cinta, membaginya penuh kedermawanan dengan semua makhluk ciptaan-Mu…”
Suasana magis dan penuh energi semakin terasa saat para siswa melantunkan lagu “Air Sumber Kehidupan”. Menggunakan siwur (gayung tradisional dari batok kelapa), mereka kemudian mengambil air dari belik dan memasukkannya ke dalam kendi-kendi tanah liat. Air suci ini dibawa kembali ke sekolah untuk didoakan dan dijadikan berkat dalam acara kelulusan (persapihan) yang rencananya akan digelar pada 24 Juni 2026 mendatang.
Kepala Sekolah SD Kanisius Kenalan, Yosef Onesimus Maryono, menjelaskan bahwa aksi ini dirancang agar para murid tidak hanya memahami teori tentang lingkungan, melainkan mengalami langsung interaksi dengan alam.
“Aksi ini menjadi wujud pendidikan yang mengajak murid tidak hanya mengetahui pentingnya manfaat air, tetapi juga mengalami, merefleksikan, dan mengambil bagian dalam upaya menguatkan kesadaran dalam melestarikan sumber mata air. Tujuannya agar murid selalu ingat dan percaya pada kewajiban mereka dalam menjaga pusaka bersama, yaitu air,” ujar Yosef Onesimus Maryono saat diwawancarai di lokasi kegiatan, Rabu (10/6).
Yosef menambahkan, esensi dari kelulusan sekolah dasar sebetulnya adalah gerbang awal pendewasaan bagi anak-anak untuk mulai peduli pada lingkungan sosial dan ekologi di sekitarnya.
“Aksi ini diharapkan dapat mengajak murid belajar melihat keterkaitan antara manusia, lingkungan alam, dan sang pencipta. Kelulusan bukan menjadi penanda akhir belajar, justru menjadi penanda bahwa murid seharusnya semakin berani untuk bertanggung jawab atas dirinya, komunitas, dan lingkungan alam,” pungkas Yosef.
Liputan : Bagus Anies



