Kulon Progo, Proliman News – Taruna Siaga Bencana (Tagana) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Apel Siaga Bencana dalam rangka memperingati HUT Tagana ke-22.
Acara ini dipusatkan di Lapangan Bukit Cubung, Kalurahan Jatirejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, Kamis (9/4/2026).
Peringatan tahun ini mengusung tema ‘22 Tahun Mengabdi untuk Ketangguhan Negeri’.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan sebagai pembina upacara menyampaikan apresiasi mendalam atas peran strategis Tagana sebagai garda terdepan penanggulangan bencana berbasis masyarakat.
“Selama lebih dari dua dekade, Tagana telah hadir dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang tinggi. Kehadiran para relawan di tengah masyarakat adalah simbol nyata dari solidaritas sosial,” ujar Bupati.
Ia menekankan bahwa wilayah DIY, khususnya Kulon Progo, memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.
Mengingat tantangan kebencanaan yang semakin kompleks, ia meminta Tagana tidak hanya sigap saat tanggap darurat, tetapi juga masif dalam upaya mitigasi dan edukasi masyarakat.
“Tagana adalah mitra strategis pemerintah dalam perlindungan sosial. Kita perlu terus meningkatkan kapasitas, profesionalisme, serta mulai memanfaatkan teknologi dalam penanggulangan bencana,” tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo berkomitmen untuk terus mendukung eksistensi Tagana melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Bupati berharap momentum HUT ke-22 ini menjadi sarana memperkuat kolaborasi antara pemerintah, relawan, dunia usaha, dan masyarakat untuk mewujudkan budaya sadar bencana.
Sementara Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, menyampaikan bahwa Tagana mempunyai semangat Saiyeg Saeko Proyo sebuah nilai luhur budaya Jawa yang berarti bersatu dalam tekad dan tindakan. Nilai inilah yang menjadi napas Tagana dalam setiap aksi penanggulangan bencana.
“Tagana lahir dari semangat gotong royong. Kita belajar bahwa kekuatan terbesar bukan hanya pada sumber daya, tetapi pada sinergi nurani antara pemerintah, masyarakat, dan relawan untuk saling menjaga,” ujar Endang.
Endang juga mengingatkan prinsip “Urip Iku Kudu Urup”, yang bermakna hidup harus memberi manfaat bagi sesama, terutama di saat-saat sulit pascabencana.
Mengangkat tema ‘22 Tahun Mengabdi untuk Ketangguhan Negeri’ peringatan tahun ini menitikberatkan pada pembangunan budaya sadar bencana sejak dini.
Endang menegaskan bahwa Tagana tidak boleh hanya hadir saat masa darurat, tetapi juga berperan aktif dalam edukasi mitigasi.
“Ketangguhan sejati adalah saat masyarakat mampu berdiri kembali dengan lebih kuat dan bersatu. Di tengah tantangan kebencanaan yang makin kompleks, Tagana harus terus bertransformasi tanpa kehilangan jati diri dan kearifan lokal,” tambahnya.
Saat ini, DIY didukung oleh 1.023 personel Tagana yang tersebar di lima kabupaten/kota.
Endang merinci persebaran anggota sebagai berikut, Kabupaten Gunungkidul 299 orang, Kabupaten Kulon Progo 217 orang, Kabupaten Bantul 194 orang, Kabupaten Sleman 185 orang dan Kota Yogyakarta 128 orang.
Liputan : W Maryanti



