Umi Kulsum dan Magis Puisi di Bawah Bulan Purnama: Penutup Puitik Hari Pertama FSY 2025

Umi Kulsum hadir di FSY 2025 lewat Sastra Bulan Purnama, suguhkan puisi yang lembut, reflektif, dan menyentuh jiwa.Ask ChatGPT
Umi Kulsum hadir di FSY 2025 lewat Sastra Bulan Purnama, suguhkan puisi yang lembut, reflektif, dan menyentuh jiwa.Ask ChatGPT

Yogyakarta, Proliman News — Ketika malam mulai menua dan cahaya bulan purnama memandikan halaman Grha Budaya Embung Giwangan dengan sinarnya yang tenang, Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 menutup hari pertamanya dengan sentuhan yang magis.

Pada Rabu malam (30/7/2025), pukul 19.30 WIB, sesi Sastra Bulan Purnama hadir bukan sekadar sebagai penutup, melainkan sebagai ruang penyatuan rasa dan kenangan, dengan Umi Kulsum tampil sebagai pusat pesona.

Umi Kulsum, penyair yang juga dikenal sebagai esais dan kurator sastra, hadir dengan penampilan yang bukan hanya performatif, tetapi juga spiritual.

Setiap bait puisinya seolah mengalir seperti doa, mengajak hadirin menyusuri lorong-lorong kenangan tentang rumah, perempuan, luka, dan daya hidup. Bukan suara keras yang mengguncang, tetapi kelembutan yang menyentuh dalam diam.

Pertunjukan malam itu terasa seperti ritual sastra, bukan sekadar pembacaan puisi. Penonton terdiam bukan karena aturan, tetapi karena terhipnotis oleh atmosfer yang dibangun Umi.

Puisi menjadi jembatan antara yang personal dan yang kolektif, mengisi ruang dalam diri masing-masing penonton dengan resonansi emosional yang dalam.

Menjelang akhir penampilannya, Umi Kulsum berbagi perasaan mendalam tentang kedekatannya dengan tradisi Sastra Bulan Purnama, sebuah forum pembacaan puisi yang telah berlangsung secara rutin sejak 2011.
Ia menyebut ruang ini bukan hanya sebagai panggung, tapi sebagai rumah kedua yang penuh kejujuran.

BACA JUGA  Angkat Jaran Kepang, Agus Gondrong Masuk Nominasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026

“Sastra Bulan Purnama adalah tempat kembali. Tempat saya tumbuh dan merasa diterima,” ucapnya lirih.

Ia juga mengenang momen penting dalam perjalanannya dalam peringatan Hari Chairil Anwar tahun 2013, yang menurutnya menjadi titik balik pemahaman bahwa sastra bukan hanya estetika, tetapi juga kekuatan untuk menyatukan dan menghaluskan kehidupan sosial.

Tak seperti pertunjukan yang riuh dan ramai, malam itu berlangsung dalam keheningan yang mendalam, bukan karena sepi, tapi karena audiens larut dalam pengalaman batin yang disampaikan Umi lewat puisi.

Dari mahasiswa, seniman, penulis, hingga warga biasa, semuanya duduk tenang menyerap setiap kata.

Beberapa penonton bahkan mengaku ini adalah momen paling menyentuh sepanjang sejarah Sastra Bulan Purnama.

Ada yang menangis diam-diam, ada yang menulis cepat di buku catatan, dan ada pula yang sekadar menggenggam tangan temannya, semuanya menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi medium pemulihan yang tulus.

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *