Bambang Sutrisno: Pengangguran Mayoritas di Kulon Progo Justru Generasi Z Lahir Tahun 1997-2012

Bambang mengungkap, Gen Z yang lahir antara tahun 1997-2012 memiliki karakteristik unik, yang dekat dengan teknologi. (foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi Kabupaten Kulon Progo, Bambang Sutrisno menyebut, mayoritas pengangguran di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya di Kulon Progo, didominasi oleh Generasi Z atau Gen Z.

“Sebab, banyak dari mereka yang enggan bekerja jika tidak sesuai keinginan,” ujarnya dalam program Dialog Jogja Pagi Ini yang disiarkan di RRI Pro 1 Yogyakarta, Jumat (25/7/2025) pagi. 

Bambang mengungkap, Gen Z yang lahir antara tahun 1997-2012 memiliki karakteristik unik, yang dekat dengan teknologi.

Menurutnya, Gen Z lebih menyukai pekerjaan yang fleksibel, yang bisa dikerjakan sambil mengerjakan pekerjaan lain sesuai selera mereka.

Namun, di sisi lain, banyak dari mereka yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan tanpa diimbangi dengan kesiapan mental dan keterampilan yang mumpuni.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik di Kulon Progo, dari 280 ribu angkatan kerja, sebanyak 97 persen di antaranya bekerja, dan sisanya sebanyak 5.000 atau sekitar 2 persen adalah pengangguran terbuka.

“Namun kalau dasarnya pendataan kami pengangguran terbukanya jumlahnya 4.076 orang atau 1,95 persen. Nah, ini pengangguran terbuka ini mayoritas memang Gen Z ini. Jadi, lebih dari 2.000, lebih dari 50 persen Gen Z,” ujar Bambang.

Demi mengurangi angka pengangguran, Bambang menyebut Disnaker Kulon Progo perlu menyembatani antara dunia pendidikan, usaha, industri, dan dunia kerja.

Hal itu bisa dilakukan dengan mengadakan job fair dan program pelatihan kerja.

BACA JUGA  Kemarau Ekstrem dan Bendungan Bocor, 500 Hektar Sawah di Jember Terancam Gagal Panen

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Yogyakarta, Joko Susanto mengungkap, pengangguran terjadi bukan karena tidak adanya lapangan kerja, tetapi juga dipengaruhi sikap dari pencari kerja.

Ia menyebut, berdasarkan hasil survei yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar pengangguran di DIY berasal dari lulusan SMA/SMK ke atas.

“Kami sudah survei bahwa pengangguran yang banyak terjadi di DIY termasuk mungkin nanti di Kulon Progo adalah pengangguran terdidik, mereka yang berpendidikan SMA atau SMK ke atas. Nah, mengapa begitu? Karena mereka itu cenderung pilih-pilih pekerjaan,” ucap Joko.

Menurut Joko, selain menyediakan lapangan pekerjaan, ia menekankan pentingnya pembentukan karakter dan mental kerja sejak dini.

“Itu yang diperlukan dan Disnakertrans DIY sudah melaksanakan nantinya pembangunan karakter pekerja istimewa. Artinya pekerja DIY itu diharapkan berbeda dengan pekerja DIY dari sisi SDM-nya dan dari sisi karakternya,” ujarnya.

Joko menekankan, pembentukan karakter tidak cukup setahun atau dua tahun. Namun, perlu dilakukan secara masif agar hasilnya maksimal.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *