Magelang, Proliman News – Sejumlah orang tua dan para siswa Yayasan As-Syafi’iyah, Mendut, Magelang, Jawa Tengah menggelar salat gaib di aula lingkungan sekolah.
Salat gaib digelar untuk mendoakan para ustazah atau guru yang menjadi korban dalam kecelakaan maut di Kalijambe, Bener, Purworejo.
Sebelum salat, Ketua Komite SD IsIam Tahfidz Quran As-Syafi’iyah, Wahid Ghozali berdiri di depan jamaah.
Ia menceritakan bahwa dirinya ikut rombongan namun berbeda mobil untuk takziah ke Purworejo.
Siang itu, dirinya sudah sampai di tempat lokasi.
Namun tak berselang lama mendapatkan kabar jika mobil rombongan takziah di belakangnya mengalami kecelakaan.
“Korbannya ustazah semua. Semoga mereka mati syahid. Karena perginya bukan untuk hura-hura, melainkan untuk bertakziah,” katanya.
Menurut dia, informasi sementara yang diterima, ada 13 ustazah atau guru yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.
Sepuluh orang terkonfirmasi dinyatakan meninggal dunia, satu orang selamat dan dua orang hingga kini kondisinya belum terkonfirmasi.
Korban meninggal dunia merupakan ustazah yang berangkat ke Purworejo dalam satu mobil angkot.
Sepengetahuan dirinya mobil angkot tersebut berisi 13 ustazah dan 1 sopir sehingga totalnya 14 orang.
“Korban kecelakaan satu mobil angkot itu, isinya setauku 13 guru, 14 orang dengan sopir,” ujarnya.
Rabu pagi, anak-anak Sekolah Dasar di Yayasan As-Syafi’iyah Magelang dipulangkan lebih awal pada pukul 09.00 pagi.
Hal ini karena para ustazah/guru, bersama komite dan pemilik Yayasan telah menyusun rencana untuk pergi takziah ke Purworejo.
Rombongan berangkat dari sekolah ke Purworejo dengan lima mobil pukul 10.00 WIB.
Rinciannya, dua mobil diisi guru. Satu mobil untuk komite, satu mobil keluarga Yayasan dan Ketua Komite. Wahid Ghozali memutuskan berangkat ke Purworejo dengan mengendarai mobil sendiri.
Semula perjalanan berjalan lancar. Mobil Wahid diurutan terakhir.
Akan tetapi di Bangjo Salaman, Ia menyalip rombongan di depannya dan sampai terlebih dahulu di lokasi takziah.
Sampai di lokasi, Ia salat jenazah. Tak berselang lama setelah itu, Ia mendapat kabar jika satu mobil angkot yang diisi belasan ustazah mengalami kecelakaan dan mayoritas ustazah di dalamnya meninggal dunia.
“Saya langsung kaget. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Setelah ada kabar-kabar lagi. Kami komunikasi dengan pemilik yayasan, saya tahu tidak ada pengurus yayasan yang di sekolah, akhirnya saya pulang untuk mengkondisikan sekolah,” katanya.
Liputan : Berbagai Sumber



