Rupiah Tembus Rekor Terburuk Rp18.020/US$, BI dan Duo Menteri Pasang Badan Ungkap Biang Keroknya

Dollar ke Rupiah Hari Ini 6 Juni 2026 (Foto/Google)

Jakarta, Prolimannews – Pasar keuangan dalam negeri kembali diguncang sentimen negatif. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terkapar hingga mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah setelah resmi ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$ pada perdagangan kemarin (4/6).

Merespons kejatuhan mata uang Garuda yang kian mengkhawatirkan, jajaran otoritas moneter dan fiskal mulai dari Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, hingga Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi langsung kompak buka suara guna menenangkan pasar.

Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa amblasnya nilai tukar rupiah tidak lepas dari kombinasi tekanan eksternal dan kebutuhan internal.

Dari sisi global, tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas menjadi motor utama. Eskalasi ini menjauhkan prospek perdamaian, memicu lonjakan harga minyak dunia, meningkatkan risiko inflasi global, dan akhirnya memaksa aliran dana keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Selain itu, kebutuhan (dolar) domestik saat ini memang masih cukup besar, sejalan dengan pola musiman repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN),” jelas Destry.

Guna menahan kejatuhan lebih dalam, BI memastikan tidak akan tinggal diam. Destry menegaskan pihaknya terus mengintensifkan intervensi pasar secara konsisten di berbagai lini:

  • Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
  • Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
  • Memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market demi menarik kembali modal asing.
BACA JUGA  Sepuluh Kalurahan di Pesisir Selatan Kulon Progo Bakal Diterjang Tsunami Setinggi 10 Meter Jika Ada Gempa Megathrust

Meski psikologis pasar terganggu dengan angka rupiah yang menembus level Rp18.000-an, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik. Ia memastikan lonjakan kurs ini sudah masuk dalam kalkulasi risiko.

Purbaya menjamin bahwa kondisi APBN 2026 tidak akan goyang secara signifikan, termasuk dalam hal beban pembayaran kupon bunga utang luar negeri.

“Kuponnya sendiri sebenarnya konstan. Memang saat rupiah melemah, nilai pembayarannya dalam rupiah otomatis meningkat. Namun, ini semua masih dalam batas range perhitungan makro yang sudah kita antisipasi sebelumnya,” tegas Purbaya di Gedung DPR, Jakarta.

Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan pihak Istana terus memantau pergerakan liar kurs ini. Ia menyebut Presiden telah menginstruksikan koordinasi super intensif antara Kementerian Keuangan, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Prasetyo meminta publik tetap optimistis karena fondasi ekonomi nasional secara umum tidak seburuk pergerakan nilai tukarnya.

“Kami terus berkoordinasi secara intens untuk memonitor dan mengambil langkah-langkah terukur. Satu hal yang pasti, kita harus yakin bahwa fundamental ekonomi kita—yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap terjaga—insyaallah masih sangat kuat,” pungkas Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *