Imam Safi’i : PAN Gelar Bancaaan Mengumumkan Jadi Anak Nahdliyin, Siapa Bapaknya ?

Politik itu musim. Setelah Muktamar NU ke-35 usai, dengan pemberian Kartu Anggota Kehormatan NU kepada Presiden Prabowo Subianto, musim berikutnya sudah terlihat: Pemilu 2029.

Dan yang paling seksi diperebutkan hari ini bukan kursi, tapi jama’ah Nahdliyin.

Tanda-tandanya sudah nampak. PAN menggelar Harlah dengan lontaran pertanyaan apa singkatan PAN.

PAN adalah Partai Anak Nahdliyin. Bukan sekadar singkatan. Itu pesan. Itu kode. Itu undangan.

Lebih menggiurkan lagi, yang bisa menjawab langsung dapat hadiah umroh dari Zulkifli Hasan sang Ketua Umum PAN/

Hadiah dunia akhirat, paket komplit. Jama’ah senang, panitia tepuk tangan, media ramai. Medsos geger. Viral.

Wajar. Semua partai butuh basis massa. Dan basis paling solid, paling militan, paling istiqomah di negeri ini ya jama’ah NU.

NU punya masjid, madrasah, pesantren, ranting sampai ke pelosok. Punya kyai yang satu fatwanya bisa menggerakkan ribuan orang.

Maka wajar kalau semua partai ingin diadobsi jadi Anak Nahdliyin.

Si sinilah ujian NU dimulai.

NU bukan partai. NU rumah besar. Rumah ini harusnya menampung semua anak, bukan dijual ke salah satu anak.

Ketika ada partai yang mengklaim diri “Anak Nahdliyin”, pertanyaannya: siapa bapaknya ?

Kita khawatir. Khawatir NU kembali ditarik-tarik seperti tahun-tahun politik sebelumnya. Khawatir suara adzan di mushola dipakai untuk orasi. Khawatir sarung dan peci dipakai untuk alat kampanye. Khawatir hadiah umroh yang indah itu, pelan-pelan menjadi transaksional.

BACA JUGA  Prabowo Soroti Ketahanan Rakyat dan Dorong Kemandirian Energi Lewat Industri Kendaraan Listrik

Bagi PAN, langkah ini cerdas. Konsolidasi dini. Menanam bendera sebelum 2029.

Bagi NU, ini pengingat. Bahwa kemandirian NU sedang diuji. Bahwa harga diri jama’ah sedang ditawar.

Wahai pengurus NU baru, catat ini. Jama’ah bukan komoditas. Cinta jama’ah kepada NU bukan karena kaos, bukan karena sembako, bukan karena umroh. Tapi karena NU mengayomi. Karena NU istiqomah di jalan Aswaja.

Jika PAN ingin jadi “Anak Nahdliyin”, silakan. Asal jadi anak yang berbakti, bukan anak yang merebut warisan.

Dan jika NU ingin tetap jadi ibu, maka jaga jarak. Rangkul semua, jangan digendong siapa saja. 2029 masih jauh. Tapi perebutannya sudah dimulai hari ini. Wallahu a’lam.

Penulis : Imam Safi’i

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *