Kulon Progo, Proliman News – Ketua DPRD Kulon Progo Aris Syarifuddin mengapresiasi rencana penggunaan 7.500 obor dalam peringatan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo.
Di tengah ancaman kebakaran lahan dan kemarau panjang, ia mengusulkan penggunaan 75 kendi berisi air dari berbagai mata air di Kulon Progo sebagai alternatif yang dinilai lebih sarat makna.
Aris memuji Pemkab Kulon Progo yang menggelar perayaan bertajuk Nggugah Budaya Menoreh: Nyawiji Anjayeng Bawana.
Namun, menurutnya, kemeriahan perayaan hari jadi perlu mempertimbangkan situasi lingkungan dan kondisi masyarakat saat ini.
“Saudara kita di Kalimantan masih berjuang menghadapi asap karhutla dan ancaman ISPA. Sementara Kulon Progo sendiri dilanda kemarau panjang yang diprediksi hingga November dan kebakaran lahan di sejumlah wilayah,” ungkap Aris Senin (12/10/2026).
Ia menilai, penggunaan ribuan obor di tengah kondisi tersebut perlu ditimbang kembali.
Selain aspek estetika dan pelestarian budaya, penyelenggaraan kegiatan publik juga perlu memperhatikan risiko lingkungan serta membangun kepekaan terhadap bencana.
Menurut Aris, semangat kebersamaan dalam peringatan hari jadi tidak harus diwujudkan melalui penggunaan api.
Simbol lain yang lebih relevan dengan kondisi kemarau dapat menjadi pilihan tanpa menghilangkan nilai budaya yang ingin disampaikan.
Sebagai alternatif, ia mendorong penggunaan 75 kendi berisi air dari berbagai mata air di Kulon Progo. Kendi dan air, menurutnya, dapat menjadi simbol kemakmuran, sumber kehidupan, sekaligus doa bersama agar kemarau segera berakhir.
“Air adalah simbol kemakmuran dan kehidupan, sejalan dengan semangat nyawiji, sekaligus menjadi doa bersama agar kemarau segera berlalu,” ujarnya.
Usulan tersebut juga membuka ruang bagi penyelenggara untuk memaknai peringatan hari jadi secara lebih kontekstual.
Di tengah ancaman kekeringan dan kebakaran lahan, pesan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Aris berharap peringatan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo tidak hanya menjadi ajang perayaan seremonial, tetapi juga mencerminkan kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Semoga peringatan ke-75 ini semakin bermakna, aman, dan penuh kepedulian,” pungkasnya.
Liputan : W Maryanti



