Yayasan As-Syafi’iyah, Mendut Magelang Jawa Tengah Berduka, 10 Ustazah Meninggal 4 Orang Terluka Parah

Truk bermuatan pasir menghajar mobil angkutan rombongan takziah dari Mungkid, Magelang, Jawa Tengah menuju Purworejo, Jawa Tengah di Kalijambe, Bener, Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (7/5/2025). (foto/ist)

Magelang, Proliman News – Sejumlah orang tua dan para siswa Yayasan As-Syafi’iyah, Mendut, Magelang, Jawa Tengah menggelar salat gaib di aula lingkungan sekolah.

Salat gaib digelar untuk mendoakan para ustazah atau guru yang menjadi korban dalam kecelakaan maut di Kalijambe, Bener, Purworejo.

Sebelum salat, Ketua Komite SD IsIam Tahfidz Quran As-Syafi’iyah, Wahid Ghozali berdiri di depan jamaah.

Ia menceritakan bahwa dirinya ikut rombongan namun berbeda mobil untuk takziah ke Purworejo.

Siang itu, dirinya sudah sampai di tempat lokasi.

Namun tak berselang lama mendapatkan kabar jika mobil rombongan takziah di belakangnya mengalami kecelakaan.

“Korbannya ustazah semua. Semoga mereka mati syahid. Karena perginya bukan untuk hura-hura, melainkan untuk bertakziah,” katanya.

Menurut dia, informasi sementara yang diterima, ada 13 ustazah atau guru yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.

Sepuluh  orang terkonfirmasi dinyatakan meninggal dunia, satu orang selamat dan dua orang hingga kini kondisinya belum terkonfirmasi.

Korban meninggal dunia merupakan ustazah yang berangkat ke Purworejo dalam satu mobil angkot.

Sepengetahuan dirinya mobil angkot tersebut berisi 13 ustazah dan 1 sopir sehingga totalnya 14 orang.

“Korban kecelakaan satu mobil angkot itu, isinya setauku 13 guru, 14 orang dengan sopir,” ujarnya.

Rabu pagi, anak-anak Sekolah Dasar di Yayasan As-Syafi’iyah Magelang dipulangkan lebih awal pada pukul 09.00 pagi.

BACA JUGA  Rayakan HUT RI ke-80 Warga Kauman Temanggung Jateng Sulap Wilayahnya Jadi Kampung Seribu Lampion

Hal ini karena para ustazah/guru, bersama komite dan pemilik Yayasan telah menyusun rencana untuk pergi takziah ke Purworejo.

Rombongan berangkat dari sekolah ke Purworejo dengan lima mobil pukul 10.00 WIB.

Rinciannya, dua mobil diisi guru. Satu mobil untuk komite, satu mobil keluarga Yayasan dan Ketua Komite. Wahid Ghozali memutuskan berangkat ke Purworejo dengan mengendarai mobil sendiri.

Semula perjalanan berjalan lancar.  Mobil Wahid diurutan terakhir.

Akan tetapi di Bangjo Salaman, Ia menyalip rombongan di depannya dan sampai terlebih dahulu di lokasi takziah.

Sampai di lokasi, Ia salat jenazah. Tak berselang lama setelah itu, Ia mendapat kabar jika satu mobil angkot yang diisi belasan ustazah mengalami kecelakaan dan mayoritas ustazah di dalamnya  meninggal dunia.

“Saya langsung kaget. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Setelah ada kabar-kabar lagi. Kami komunikasi dengan pemilik yayasan, saya tahu tidak ada pengurus yayasan yang di sekolah, akhirnya saya pulang untuk mengkondisikan sekolah,” katanya.

Liputan : Berbagai Sumber

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *