150 Wisatawan Lepas Liarkan 200 Tukik dalam Kegiatan Release Tukik Sesi Dua di Pantai Trisik Hari Ini

Sebanyak 200 tukik dilepas di Pantai Trisik oleh 150 wisatawan dalam aksi pelestarian penyu dan wisata edukasi.
Sebanyak 200 tukik dilepas di Pantai Trisik oleh 150 wisatawan dalam aksi pelestarian penyu dan wisata edukasi.

Kulon Progo, Proliman News – Upaya pelestarian penyu di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta terus mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Pada Minggu, 27 Juli 2025, sebanyak 200 tukik atau bayi penyu berhasil dilepasliarkan ke laut lepas di Pantai Trisik, Dusun Babaran, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan ini diikuti 150 wisatawan yang ikut serta secara langsung dalam acara bertajuk “Release Tukik Sesi Dua” di Pantai Trisik Kulon Progo.

Acara pelepasan tukik tersebut merupakan bagian dari program edukatif dan konservasi yang digelar oleh Komunitas Pelestari Penyu Abadi Trisik.

Ketua komunitas, Edy Yulianto, menyebutkan bahwa kegiatan serupa telah rutin diselenggarakan sebagai upaya membangun kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga habitat dan populasi penyu.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Hari ini kita menerima sekitar 150 peserta yang datang dari berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Semarang, Magelang, hingga Purwokerto,” ujar Edy saat ditemui di lokasi kegiatan.

Rangkaian pelepasan tukik tahun ini belum selesai. Menurut Edy, akan ada dua sesi lanjutan yang dijadwalkan pada 3 dan 10 Agustus 2025.

Setiap sesi diperkirakan akan melepas 200 hingga 250 tukik hasil penetasan. Kegiatan Release Tukik ini sendiri telah berlangsung rutin sejak pertengahan Juli 2025, sebagai puncak dari musim penyu bertelur yang biasanya terjadi antara April hingga pertengahan tahun.

BACA JUGA  Rakerda PHRI DIY: Kunjungan Wisata Meningkat Tetapi Sayang Durasi Tinggal Masih Relatif Singkat

Telur-telur penyu tersebut didapatkan melalui kerja sama dengan relawan konservasi serta warga setempat yang menemukan sarang penyu di sepanjang pantai.

“Setiap sarang yang ditemukan akan dibeli oleh kami seharga Rp1.500 per butir, sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan ekonomi kepada warga yang ikut menjaga keberadaan penyu,” jelas Edy.

Tak sekadar pelepasan tukik, program ini juga menjadi daya tarik wisata edukatif yang memperkenalkan wisatawan terhadap konservasi penyu.

Melalui pengalaman langsung melepas tukik, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan Pantai Trisik, tetapi juga turut ambil bagian dalam upaya menjaga ekosistem laut.

“Kegiatan ini sangat menyentuh. Anak-anak saya jadi tahu bagaimana pentingnya menjaga hewan laut seperti penyu,” ungkap Sari, salah satu wisatawan asal Sleman yang datang bersama keluarganya.

Dukungan dari masyarakat, komunitas relawan, dan para wisatawan seperti inilah yang menjadi motor penggerak keberlanjutan program pelestarian penyu di wilayah pesisir selatan Yogyakarta.
Dengan kombinasi antara konservasi dan wisata edukasi, Pantai Trisik kini menjelma sebagai laboratorium alam terbuka yang hidup dan bermakna.

Edy mengatakan, Pantai Trisik menjadi salah satu lokasi favorit penyu untuk bertelur, khususnya di bagian timur yang berbatasan langsung dengan muara Sungai Progo.

Namun, tantangan besar kini muncul akibat abrasi pantai yang menyebabkan kerusakan habitat alami penyu di bagian barat pantai.

“Dulu kawasan barat dekat TPI Trisik adalah lokasi utama sarang penyu, tapi kini abrasi telah menghapuskan sebagian besar areanya. Penyu kini lebih sering bertelur di sisi timur, mendekati muara,” tutur Edy.

BACA JUGA  PT Indo Tambangraya Megah Tbk Sukses Produktifkan 250 Hektar Lahan Kritis di DAS Menoreh

Perubahan lokasi ini menjadi tantangan baru bagi para relawan pelestarian. Mereka harus bekerja lebih keras memantau dan mengamankan sarang dari potensi ancaman baik alami maupun ulah manusia.

Liputan: Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *