Kulon Progo, Proliman News — Nilai-nilai kesederhanaan, kebersahajaan, dan akar peradaban para tokoh bangsa kembali ditegaskan sebagai pilar penting dalam membangun kemaslahatan masyarakat. Kabupaten Kulon Progo, yang kaya akan jejak sejarah dan perjuangan, kini bertransformasi menjadi pusat pembelajaran spiritual, budaya, dan pemberdayaan berbasis ketokohan melalui pengembangan Kampung Tematik dan Ekosistem Kebudayaan, dengan inisiatif utama Kampung Pak AR Banaran, yang berlokasi di Kalurahan Banaran. (09/10/2026).
Semangat menebar manfaat ini senantiasa ditopang oleh kreativitas serta kedekatan dengan masyarakat di tingkat paling dasar atau akar rumput.
Ir. H. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M., anggota DPD RI asal Yogyakarta, dalam berbagai ruang dialog bersama warga menekankan bahwa eksistensi sebuah gerakan kebaikan sejati selalu bertumpu pada kekuatan struktur ranting. “Merga ranting kuwi penting,” ujarnya, menggambarkan bahwa kedaulatan dan kedekatan dengan umat di tingkat dasar adalah kunci utama peradaban.
Ia juga mengingatkan agar pemanfaatan media sosial di era modern diarahkan secara bijak untuk menyebarkan nilai manfaat dan keteladanan, bukan untuk pengkultusan individu:
”Bukan dalam konteks kultus individu, tetapi dalam konteks kemanfaatan… daripada kita datang ke satu tempat untuk ziarah fisik yang kurang jelas, niki meneladani dan mensyiarkan kemanfaatan dari pemikiran-pemikiran yang memang sudah terbukti membawa kemajuan.”pungkasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Dr. H. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M. Bupati Kulon Progo, menyampaikan bahwa Kulon Progo menyimpan potensi luar biasa dengan hadirnya jejak para tokoh besar seperti almarhum K.H. A.R. Fakhruddin (Pak AR) yang dikenal sangat hangat dan dekat dengan masyarakat, Nyai Ageng Serang, Sanun, hingga seniman legendaris Ki Hadi Sugito.
Rencana pengembangan ini dirancang melalui pendekatan terpadu yang mencakup pembangunan museum terpadu, kerja sama institusi pendidikan seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), pemberdayaan ekonomi lokal, serta interaksi wisatawan yang interaktif.
”Langkah ini adalah ikhtiar kita bersama untuk mengenang, mengenal, dan memastikan mata rantai sejarah peradaban kita tidak terputus. Kita ingin warisan nilai-nilai kebaikan dari para tokoh kita tetap menjadi penuntun bagi generasi mendatang,” ungkap Agung.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Pengembangan Kampung Pak AR Banaran, Wakhid Purwosubiantoro, S.T.P., M.M., menjelaskan bahwa kawasan ini dirancang sebagai Living Museum & Santri Edu-Tourism yang terbuka dan ramah bagi seluruh kalangan. Pengembangan ini dibagi menjadi empat zona utama, yaitu Zona Napak Tilas & Spiritual (Replika Rumah Pak AR, Situs Ibunda, Masjid Perjuangan), Zona Edukasi Kampung Santri (Live-In Santri), Zona Kuliner & Ekonomi Warga (lele asap, belut, wader, sentra itik, Kampung Jamu), serta Zona Ekowisata Tepi Progo (konservasi mangrove, pelepasan tukik).
”Kami ingin menghadirkan ruang di mana siapa saja—baik keluarga, generasi muda, pelajar, hingga instansi—bisa datang dan merasakan langsung bagaimana nilai kesederhanaan dan keteladanan Pak AR diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Harapan kami, Kampung Pak AR Banaran dapat berkembang menjadi Pusat Keteladanan Nasional yang menggerakkan ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian alam,” tutur Wakhid.
Pengunjung juga dimudahkan dengan teknologi digital berupa QR Code History di setiap situs sejarah untuk mendengarkan narasi audiovisual secara langsung melalui gawai mereka.
Inisiatif strategis ini turut mendapat dukungan penuh serta dihadiri oleh jajaran pimpinan Muhammadiyah DIY dan Kulon Progo, Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Sutarman, S.STP., M.Eng., serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kulon Progo Drs. Nur Wahyudi, M.M.
Melalui kolaborasi lintas sektoral, pendekatan yang humanis, dan semangat kebersamaan, Kulon Progo kini bersiap menjadi ruang belajar peradaban yang inklusif, hangat, dan menginspirasi bagi Indonesia.(PJ)
Liputan: W Maryanti



