Agung Setyawan: Kedepan Tidak Ada Istilah Lahan Nganggur di Kulon Progo, Semua Harus Produktif

Calon Bupati Kulon Progo Nomor Urut 1, Agung Setyawan mengaku tidak menyangka bakal mendapatkan dukungan besar dari warga Nahdliyin Kulon Progo.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Seluruh lahan kritis lahan nganggur atau lahan kosong di sepanjang Bukit Menoreh dan kawasan lain di Kulon Progo sebaiknya tidak dibiarkan menjadi lahan mangkrak.

 “Semua lahan kosong, nganggur karena tandus atau gersang, di sepanjang Bukit Menoreh, sebaiknya didorong untuk intensifikasi tanaman agro, terutama aneka jenis durian,” kata Agung Setyawan, Calon Bupati Kulon Progo Nomor Urut 1, kepada media, Kamis (3/10/2024).

Kenapa durian ? Karena ketinggian kawasan sepanjang Bukit Menoreh bagus untuk berbagai jenis durian berkelas seperti durian duri hitam, bawor, musangking, super tembaga, dan jenis lokal unggulan lainnya.

Bahkan kini ada durian Kepranan berasal dari pohon durian yang ada di Pedukuhan (dusun) Pranan, Kalurahan Banjaroya, Kapanewon Kalibawang.

Lalu ada durian Cempli, Promasan, dan Kendil, ada juga varietas unggul nasional yakni Durian Menoreh Kuning dan Menoreh Jambon.

“Pilihannya banyak, selain durian bisa juga komoditi lain seperti coklat dan alpukat. Prinsipnya jangan ada lahan nganggur tidak produktif, berdagaya guna,” ujar Agung Setyawan.

Sehingga kedepan harus digalakkan intensifikasi agro di semua kawasan tersebut (sepanjang Bukit Menoreh,red) agar tidak ada lagi istilah lahan nganggur atau terbengkelai tidak produktif.

Intensifikasi tanaman agro, tanaman pangan, atau holtikultura bahkan juga perlu didorong di kawasan ngarai, dan pantai selatan.

“Kederpan kita akan bersama-sama membangun semangat produktif agro. Semua lahan harus produktif, harus menghasilkan. Pilihannya banyak,” tegasnya.

BACA JUGA  Pura-Pura Beli Buah, Pencuri iPhone 11 di Wates Ditangkap Polisi di Kebumen

Karena ketika banyak lahan dibiarkan gersang, kesannya mangkrak harganya murah dan seolah seperti tidak bisa memberi kontribusi pada kesejahteraan masyarakat.

“Padahal lahan nganggur itu hanya karena kurang sentuhan. Baik sentuhan atau dukungan teknologinya maupun risetnya,” ungkap Agung Setyawan.

Ia mengatakan, kalau cara pandangnya begitu, nanti bisa-bisa menjadi padang ilalang atau stepa. Susahnya lagi kalau akhirnya jadi tempat pembuangan sampah liar.

“Kalau tidak tertangani lima atau sepuluh tahun lagi lahan nganggur tersebut akan jadi masalah bagi masyarakat kita. Seperti tempat buang sampah atau rongsokan seperti yang kini melanda banyak daerah. Tidak boleh begitu, ” katanya.

Ditanya tentang bagaimana mengatasi problem sampah Agung Setyawan mengatakan Kulon Progo harus mulai berfikir keras untuk menyiapkan managemen pengelolaan sampah agar tidak mengorbankan kenyamanan dan kesehatan masyarakat.

“Kami sudah berfikir soal ini, kami siapkan model pengolahan sampah yang berdaya guna. Yakni pengolahan sampah menjadi komoditas yang insyaallah justru bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Intinya menyiapkan satu teknologi pengolah sampah jadi komotitas tertentu, dengan prinsip mengolah sampah itu menjadi bagian dari ketahanan energie serta ketahanan pangan, lanjutnya.

Maka menurutnya penting kedepan melakukan gerakan intensifikasi agro atau tanaman pangan agar semua lahan nganggur menjadi produktif demi kesejahteran masyarakat.

“Tentu sekaligus menyelamatkan bumi agar tetap hijau dan berkah,” pungkasnya.

BACA JUGA  Kloter 8 YIA Memang Istimewa, Liputan Langsung Ibadah Haji Langsung Dilaporkan Oleh Jamaah

Liputan : Bagus Aryo Wicaksono

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *