Akibat Banyak Kasus Keracunan Makanan Sri Sultan HB X Meminta Dilakukan Evaluasi Program MBG

- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan pembangunan pariwisata di DIY tidak perlu meniru Bali. (foto/ist)

Yogyakarta, Proliman News – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X soroti proses penyiapan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga memicu terjadinya keracunan di sejumlah sekolah di DIY.

Sultan menyatakan, jika memang masalah keracunan MBG ini berakar dari faktor keterbatasan dapur MBG atau kurangnya tenaga kerja maka harus dilakukan peningkatan kapasisas. Menambah tenaga, misalnya.

“Kalau itu, masalahnya maka solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menambah tenaga masak. Dengan begitu, waktu memasak bisa dikejar secepat mungkin, mepet dengan waktu pendistribusian,” ujarnya.

Sultan menyatakan, yang penting bagaimana agar kasus keracunan makanan program MBG bisa teratasi. Karena evaluasinya merujuk pada keterbatasan tenaga memasak dan mepetnya waktu, satu-satunya cara harus menambah juru masak.

“Gimana (untuk) menghindari seperti itu? Ya harus ditambah lagi tukang masaknya. Juru masaknya aja diperbanyak. Jadi ora masak jam 02.00, jam 03.00 dini hari lalu dimaem jam 08.00, jam 10.00. Ya mesti keracunan,” imbuhnya.

Ngraso Dalem mencontohkan metode kerja katering. Untuk melayani pesanan 50 porsi katering masaknya sejak pukul 04.00 pagi, dan dibagikan pada pukul 08.00 pagi.

“Misalnya katering, misalnya ya, biasanya kalau ada pesanan maksimum 50 porsi, misalnya gitu. 50 porsi itu mungkin jam 4.30 pagi sudah masak. Nanti mungkin dimakan (oleh siswa/i) jam 8.00 atau apalagi jam 10.00,” terang Sultan saat ditemui di DPRD DIY, Jumat (19/9/2025).

BACA JUGA  Semua Gedung di Pelabuhan Tanjung Adikarto Rusak Berat Hanya Pos Satpam yang Terawat, Wiyono : Warga Siap Kelola !

Lalu sekarang metode ini diterapkan kepada MBG. Percobaan MBG dibebani 100 porsi, atau dua kali lipat beban katering tadi.

“Berarti apa? Mungkin masaknya (harus) mulai jam 01.30 pagi. Kalau sayur (dimasak) 01.30 pagi, jam 8.00 atau jam 10.00 ya mesti layu. Ya kan? Itu harus diperhitungkan,” sambungnya.

Sehingga menambah jumlah tenaga kerja di dapur MBG menjadi solusi. Artinya memang banyak aspek yang harus dilakukan pembenahan mulai dari jam kerja, jumlah tenaga kerja, standar kerja dan standar produksi.

Sultan mengatakan jika memang masalah keracunan MBG ini berakar dari faktor kurangnya tenaga memasak, maka solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menambah tenaga masak.

Dengan begitu, waktu memasak bisa dikejar secepat mungkin, mepet dengan waktu pendistribusian sehingga makanan tidak basi sampai di tangan para siswa.

Liputan : Tim Proliman

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *