Alfatih Cakra Buana Hidup Setelah 3 Hari Penuh Tidur di Bawah Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Ia Bermimpi Minum

Santri berusia 14 tahun ini sudah 70 jam atau tiga hari penuh terbenam di bawah reruntuhan gedung yang gulita. Namun keyakinan dan kehendak untuk hidup yang luar biasa, membuatnya selamat. (foto/ist)

Surabaya, Proliman News – Kisah Alfatih Cakra Buana, seorang santri Pondok Pesantren Al Khoziny Sidorarjo Jawa Timur, menghentak publik.

Santri berusia 14 tahun ini sudah 70 jam atau tiga hari penuh terbenam di bawah reruntuhan gedung yang gulita. Namun keyakinan dan kehendak untuk hidup yang luar biasa, membuatnya selamat.

Senin (30/9/2025) sore saatmenunggu waktu salat Ashar, tiba-tiba mushola dan gedung empat lantai runtuh. Suara gemuruh dahsyat membuat bangunan tempat Alfatih beristirahat hancur.

Dalam sekejap, Alfatih berada dalam kegelapan yang pekat, penuh debu, dan beratnya material bangunan menimpa tubuhnya. Ia terperangkap, pingsan, dan terkubur.

Alfatih Cakra Buana menghabiskan waktu hampir 70 jam (tiga hari penuh) di bawah reruntuhan. Tanpa makanan, tanpa air, dalam kondisi yang secara medis seharusnya tak mungkin ia selamat.

Namun, di tengah kondisi terdesak itu, sebuah keajaiban fisik terjadi, tubuhnya terperangkap di celah kecil terlindung  tumpukan pasir dan selembar atap seng, menciptakan ruang kecil untuknya bernapas.

Ia mengaku tidak merasa panik berlebihan, karena ia tertidur pulas. Tidur panjang itu mungkin adalah mekanisme pertahanan luar biasa dari tubuhnya untuk menghemat energi.

Di dalam tidur yang nyaris seperti koma itu, Alfatih justru mengalami pengalaman yang memberikan asupan spiritual dan harapan:

Ia bermimpi minum air segar melalui selang, yang menurutnya terasa nyata. Ini menjadi sebuah gambaran betapa kuatnya keinginan bawah sadar untuk bertahan hidup dan mencari asupan.

BACA JUGA  Ekonomi Kulon Progo Tumbuh Melesat 5,69% di Triwulan I 2026, Pemkab Siap Genjot Pembangunan Infrastruktur

Ia bermimpi berkeliling naik mobil pickup di jalanan gelap, sebuah refleksi dari pencariannya untuk keluar dari kungkungan reruntuhan.

Mimpi-mimpi ini terjadi di tengah kenyataan bahwa tubuhnya terkunci, merupakan kekuatan pikiran yang menolak menyerah pada keputusasaan.

Tiga hari setelah insiden, Alfatih terbangun oleh suara ketukan. Itu adalah suara Tim SAR yang sedang bekerja keras memilah puing.

Setelah sekian lama terisolasi, suara itu adalah pengantar menuju kehidupan.

Ketika akhirnya ia ditarik keluar, ia hanya mengalami luka lecet ringan. Di hadapan orang tua dan tim penyelamat, Alfatih menjadi simbol bahwa doa yang tak terputus dan harapan yang dijaga mampu menciptakan keajaiban yang melampaui logika manusia.

Kisah Alfatih Cakra Buana mengajarkan kita bahwa bahkan di saat kita merasa tertimbun masalah dan dikelilingi kegelapan, terkadang yang kita butuhkan hanyalah sedikit ruang untuk bernapas dan kemampuan untuk beristirahat dan bermimpi, karena harapan sejati akan datang untuk membangunkan kita.

Liputan : Reinaldy Dwi

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *