Biaya Hajatan Nikah di BUKP Galur Rp70 Juta Tidak Cair, Atun Haryono: Pedih Hati Saya Susah Hilang !

Gerbang Bintang Selatan (GBS) sebagai Aliansi Masyarakat Sipil dan Kawulo Ngayogyakarta mendesak agar Pemprov DIY bertindak cepat cermat dan sistematis dalam menangani keresahan nasabah BUKP Wates dan BUKP Galur. (foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Tega benar Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP) Galur, Kulon Progo, ujar Atun Haryono, warga Pengkol, Gulurejo, lendah, Kulon Progo.

“Saya selalu sedih dan menangis setiap mengulang cerita ini,” ujar kepada Prolimannews.id, Sabtu (26/4/2025).

Sembari menahan isak tangis, Atun Haryono pun mulai membeberkan ceritanya.

Atun mengatakan pada bulan Agustus 2024 ia sudah memberitahu pegawai BUKP Galur, bahwa akan mencairkan tabungannya sebesar Rp 70 juta.

Karena ia akan menggelar hajatan mantu bulan Januari 2025. Ia meminta pencairan dilakukan pada bulan Oktober atau November 2024.

Artinya empat bulan sebelumnya ia sudah memberi kode kepada BUKP Galur.

“Maka, Bulan Oktober 2024 saya minta pencairan, tetapi hanya diberi Rp 2 juta, dengan janji akan dicairkan bulan November 2024,” katanya.

“Lalu pada akhir November 2024, saya kembali nangis di BUKP Galur, saya kembali diberi Rp 2 juta. Ya allah, kok begini nasib saya,” lanjutnya.

Padahal waktu hajatan semakin dekat. Ia semakin pusing, dan sering sakit-sakitan. Karena sampai menjelang hari hajatan, BUKP Galur hanya janji janji dan janji.

“Setiap kali ke kantor BUKP Galur, saya bisa menangis, lemas. Darimana dapat duit untuk hajatan, pikir saya. Saya selalu pulang hanya dengan tangis dan sakit hati,” katanya.

Bahkan sakit hatinya masih belum hilang sampai sekarang. Karena memang sampai sekarang uangnya tidak bisa cair.

BACA JUGA  Akomodasi 150 Ribu Warga Menoreh, Investor Minat Bangun Rumah Sakit Spesialis di Kulon Progo Utara

“Saya masih sering nangis kalau diajak cerita tentang susahnya mencairkan tabungan dan deposito di BHUKP Galur, perih pak,” ujar Atun Haryono.

Bisa dipahami ! Betapa tidak, perempuan yang sehari-hari jualan sayur itu, sudah merancang hajatan mantu pertamanya.

Ia sangat yakin, tabungannya sebesar Rp70 juta yang dikumpukannya bertahun-tahun, cukup untuk membiayai hajatan.

“Itu tabungan, saya kumpulkan setiap hari Rp 20 ribu,” katanya dengan suara serak menahan tangis.

Ia tidak habis pikir, kenapa ia tidak bisa mendapatkan uangnya. Apa sebabnya ? Ia pun sedih bukan kepalang, hingga jatuh sakit.

“Janji petugas akan mencairkan tabungan saya, zonk ! “ katanya mencoba bersuara keras.

“Saya mulai kepikiran terus menerus. Sampai-sampai badan saya makin kurus. Harus dapat duit darimana lagi saya,” katanya menambahkan.

Ia mengaku menyimpan uangnya di BUKP Galur dalam bentuk deposito sebesar Rp 50 juta, dan tabungan biasa sebesar Rp 20 juta.

Ia bahkan serasa ambruk terkulai ketika merengek-rengek meminta uang tabungannya dicairkan tetapi hanya diberi Rp 2 juta.

“Lalu suatu hari saya datang lagi, dan menangis di BUKP Galur, lagi, tetapi saya hanya diberi Rp 2 juta lagi. Saya suadah bilang kepada pegawai di sana, uang itu jadi tumpuhan satu-satunya untuk biaya hajatan mantu, ” tambahnya.

Tetapi pegawai maupun Kepala BUKP Galur seolah tidak ngerewes. Hingga sampai beberapa hari menjelang hari hajatan tabungannya ternyata tetap tidak bisa cair.

BACA JUGA  Aktivitas Gunung Merapi Sabtu 15 Agustus 2026: Semburkan 3 Kali Lava Pijar Sejauh 1,8 KM

“Ya Allah, kenapa saya begini ! Kenapa ini menimpa saya, “ ujarnya mengulang rintihannya di BUKP Galur, saat itu.

Ia pun pulang dengan lunglai. Ia tidak habis mengerti kenapa ini terjadi. Padahal uang itu dikumpulkannya dari uang halal Rp 20 ribu setiap hari, usai berdagang.

“Saya putus asa, saya hanya bisa bersimpuh sembari menangis, badan lemas tak berdaya,” ujarnya.

Ia bahkan mengatakan, dengan sempoyongan beberapa hari sebelumnya ia sempat mencoba bertanya ke BUKP Lendah, apakah mungkin bisa mencairkan tabungannya di sana ?

“Petugas disana bilang tidak bisa. BUKP bukan BRI, yang bisa narik dana BUKP dimana saja. Saya ditanya juga, berapa tabungan saya, ya saja katakan Rp 70 juta. Petugas itu seperti tidak percaya,” ujarnya.

Akhirnya ia berserah diri, sembari menahan rasa sakit yang tak terhingga.

Menjelang hari hajatan, Allah pun mengirim orang baik untuk menolongnya.

“Alhamdulillah ada orang baik menolong saya, akhirnya hajatan bisa berlangsung dengan lancar, meski sakit hati saya terasa tak terobati pada BUKP Galur,” paparnya lirih.

Hingga saat ini ia hanya bisa menangis meratapi tabungannya di BUKP Galur sebesar Rp 70 juta, yang tidak bisa dicairkan. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.

“Saya juga sempat disalah-salahkan anak saya aktu itu. Kenapa juga mamah menabung di sana, katanya. Makin sedih rasanya,” tambah Atun Haryono menyudahi ceritanya.

BACA JUGA  Komisi B DPRD DIY Apresiasi Omzet UMKM Cingcau dan Cendol Family Tulus Group di Bantul

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *