Elisabeth Meilita: Kita Tunggu Kapan Pengelola BUKP Wates Diambil Kejaksaan dan Pemda DIY Bayar Tabungan !

“Uang yang kita simpan di BUKP Wates itu ibarat nyawa kami semua. Nyawa anak sekolah, nyawa bakulan, nyawa kelangsungan hidup kami semua, itu saja,” ujar Elisabeth Meilita Ketua Paguyuban Nasabah Korban BUKP Wates, ketika diminta konfirmasinya.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News- Nasabah korban BUKP Wates Kulon Progo hanya menunggu dua hal sekarang ini.

Pertama pengelola BUKP Wates segera diambil kejaksaan Negeri Kulon Progo, hukum seberat beratnya atau seumur hidup.

Kedua menunggu BPKAD DIY atau Pemda DIY membayar uang simpanan semua nasabah korban BUKP Wates yang nilainya mencapai lebih dari Rp 4 miliar.

“Uang yang kita simpan di BUKP Wates itu ibarat nyawa kami semua. Nyawa anak sekolah, nyawa bakulan, nyawa kelangsungan hidup kami semua, itu saja,” ujar Elisabeth Meilita Ketua Paguyuban Nasabah Korban BUKP Wates, ketika diminta konfirmasinya.

Ia mengatakan, nyawa kami semua seperti dicabut ketika uang di BUKP Wates tidak bisa dicairkan, dan ternyata diembat pengelolanya hingga ludes habis.

“Kenapa kami penabung di Lembaga Keuangan milik Pemda DIY yang namanya BUKP harus dibentak-bentak dan jadi pengemis. Kami ini penabung atau raja, kenapa jadi seperti buron. Aneh,” katanya.

Kenapa Gubernur DIY Sri Sultan HB X tidak memberi hukuman kepada BUKP Wates, tetapi kenapa kami penabung yang juga rakyat setia dan taat yang dibuat repot.

“Kami ini rakyat yang taat, tidak membuat ulah tidak melanggar hukum kenapa kami yang harus dipermainkan dan diping pong,” ungkapnya.

Gara-gara uang simpanan tidak bisa diambil karena ditelep pengelolanya, hidup ratusan penabung di BUKP Wates sengsara.

BACA JUGA  Anggota DPRD Kulon Progo Nasib Wardoyo Marah - Marah karena Hanya Kebagian Satu Pokir Itupun Dipotong !

“Kalau kami jatuh miskin ngglesot, kenapakami jadi begini, siapa yang gagal membina? “katanya.

Karena uang simpanan di BUKP Wates tidak bisa dicairkan sekarang ini ratusan orang penabung banyak hutang karena mestinya tabungan itu menjadi dana perguliran usaha tetapi kini mandeg dan kami tidak berdaya.

Cerita masing-masing penabung akan getir rasanya jika didengarkan semuanya. Ada yang nabung di BUKP Wates  untuk simpanan biaya anak sekolah, untuk berobat orang tua, dan usaha.

“Kami minta semua uang tabungan milik nasabah itu tolong segera dikembalikan. Penjarakan para penilep uang tabungan nasabah di BUKP Wates yang sudah jelas dan gamblang, “ ujarnya.

Ia menekankan, jika nuruti emosi rasanya mau berbuat nekad melakukan anarkisme atau kekerasan karena para pejabat diam tidak peduli, padahal para korban BUKP Wates itu rakyat yang taat hukum.

Ini karena BPKAD DIY dan BUKP Wates seolah seperti tidak bersalah, sebagai lembaga yang paling benar dan bersih, dan merasa tidak ada masalah. Padahal mereka mendengar ada jeritan ratusan nasabah yang kehilangan uang tabungan dan depositonya.

“Aneh kan. Saya sebagai koordinator setiap hari terus mendengar keluh kesah nasabah, cerita, tangis dan derita mereka. Mereka orang baik yang terdholimi, ini saatnya kami berteriak, kembalikan uang kami semua,”ujarnya.

Ia menekankan, kembalikan uang ratusan nasabah bukan besok bukan menunggu pengadilan, dan seterusnya, karena kami dulu menabung tanpa tanpa prosesperadilan tanpa keterlibatan aparat hukum.

BACA JUGA  Plt Pimpinan BUKP Galur Gandung Isdiyanto: Saya Ditunjuk Jadi Pimpinan Mulai 3/2/2025, Maaf Baru Adaptasi !

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Komentar