Geblek Renteng Itu Dilindungi Hak Ciptanya Sebagai Identitas Daerah, Nasib Wardoyo: Ini Karya Seni !

Dan Partai NasDem akan selalu tetap kritis terhadap kebijakan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. NasDem Kulon Progo minta restu dan dukungannya agar Pemilu kedepan mendapatkan satu fraksi.(foto/dok)

Kulon Progo, Proliman News – Anggota DPRD Partai NasDem Nasib Wardoyo kembali mengaum setelah beberapa minggu tidak ambil bicara.

Melihat viralnya berita Bupati Kulon Progo Agung Setyawan ancam Kepala Sekolah yang mempertahankan motif Geblek Renteng, ia melihatnya sebagai hal aneh.

“Kenapa aneh, kenapa mesti membuat statemen yang aneh-aneh seolah seperti dunia dalam genggmannya. Kalau mau sedikit slow, ngadem, pasti tidak seperti ini jadinya,” ujarnya.

Karena Batik motif Gebleg Renteng itu sudah terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayakan Intelektual ( DJHKI). Keberadaannya dilindungi hak cipta.

“Itu diakui secara nasional dan internasional. Kalau model perang begini terus dilakukan, waduh, kampungan kita ini,” tegasnya.

Sebagai identitas daerah, dan tidak perlu dihilangkan, kalau perlu ada inovasi baru.

“Mbok mikul duwur mendem jero, menghargai apa yang sudah dilakukan pendahulunya. Tidak perlu gerah dengan gebleg renteng. Lha banyak lho gedung-gedung berornamen Geblek rentang,” katanya.

Apa yang seperti harus dibongkar ? Atau harus dimusnahkan agar tidak ada sisa sedikitpun dari ide dan gagasan masa lalu untuk Kulon Progo ini.

Nasib Wardoyo mengatakan, Geblek Renteng itu karya budaya, karya seni, yang kemudian digunakan untuk membangun kekuatan politik di zamannya.

“Sebagai salah satau karya anak bangsa, perlu dihargai. Perlu dihormati, dan dilestarikan,” katanya.

Kalau Bupati Agung Setyawan melihat Geblek Renteng sebagai simbol politik Hasto Wardoyo, itu ada benarnya. Karena akhirnya kemudian Geblek Renten lebih condong angka delapan ( Hasta,red) dan itu dimaknai sebagai simbol kekuatan Hasta Wardaya.

BACA JUGA  Golput Tinggi Ancam Pilkada Kulon Progo 2024 Faktornya Warga Ogah Memilih Paslon dan Tidak Respek

“Begitu boleh, itu persepsi. Logikanya, anak kelas 2 SMK yang membuat desain geblek renteng ini tidak mungkin dipengarui dengan pesan politik Hasta Wardaya sebelum lomba desain,” katanya.

Pilihan jauh kepada Geblek Renteng juga karena pertimbangan latar belakang si pembuat desain dan karya ini dianggap orisinil.

“Hingga motif batik geblek renteng kemudian dianggap sebagai lokomotif yang berhasil menerjang jagad politik di Kulon Progo,” tambahnya.

Ia mengatakan, intinya hanya satu, mbok tidak usah obat-abit nekad begini cara mainnya. Bikin yang lembut, dan berwibawa.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *