Gus Yusuf Mengkritik Tata Kelola PBNU, Gus Yusuf: Kita Hanya Butuh Ketua PBNU yang Bisa Diajak Ngopi

Sampai hatri ini sedikitnya 20 PWNu se Indonesia menyatakan dukungan kepada Gus Yusuf menjadi ketua Umum PBNU. Kita tunggu Muktamar 27-31 Agustus 2026 mendatang (Foto/dok)

Jakarta, Proliman News — Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf  mengakui bahwa keputusannya maju sebagai salah satu calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar yang akan datang berawal dari permintaan para Kyai dan alumni Lirboyo.

Mereka, berharap agar muktamar ini harus menjadi muktamar yang solutif dan mampu menyelesaikan berbagai problematika yang ada, bukan menambah panjang daftar permasalahan.

“Salah satu ikhtiarnya adalah, ya harus muncul figur alternatif yang bebas konflik. Bukan dari kubu kanan maupun kubu kiri. Nah itu berangkat dari diskusi ketika di Lirboyo, teman-teman alumni lah yang terus memunculkan nama saya,” ungkapnya.

Gus Yusuf menilai bahwa hal paling mendesak untuk dilakukan NU saat ini adalah memperbaiki tata kelola  organisasi.

Pasalnya, ia berpendapat bahwa NU terlihat birokratis dan terkesan kaku saat ini.

Sehingga banyak dari kalangan PCNU yang ia temui, kerap mengeluhkan sulitnya bertemu dengan Ketua Umum PBNU untuk mendiskusikan berbagai permasalahan keorganisasian.Organisasi Multilateral

“Ini yang saya menjadi optimis karena sebetulnya syarat ketua umum NU itu sederhana, asal gelem diajak ngopi,” tuturnya.

Ia mengkritik PBNU yang dinilai kerap melakukan pembekuan maupun caretaker bagi PWNU dan PCNU tanpa terlebih dahulu mengedepankan prinsip tabayyun.

Tindakan tersebut dinilai telah melenceng dari aturan main yang telah menjadi ketetapan.

“Pagi tinggal pembukaan, malam jam 12 turun surat pembatalan Konferensi Cabang (Konfercab). Ini sangat tidak menghargai upaya kerja-kerja dari teman-teman, hanya karena calon yang konon direstui PBNU belum aman,” terangnya.

BACA JUGA  Bupati Temanggung Apresiasi Konsistensi Lansia Jaga Tradisi Suluk Suro di Ponpes Mujahidin

Situasi ini, lanjut Gus Yusuf secara otomatis memunculkan konflik dan ketegangan di lingkungan NU yang berujung pada banyaknya PCNU yang tidak diserahin SK oleh PBNU.

Imbas dari sejumlah SK PC yang mangkrak menyebabkan ikut terganggunya SK lembaga pendidikan yang bernaung di lingkungan NU seperti Ma’arif NU dan berakibat fatal pada sejumlah aktivitasnya seperti pergantian tenaga pendidik seperti kepala sekolah dan guru yang tidak bisa dilakukan hingga terhalangnya lembaga pendidikan dalam penerimaan bantuan dana hibah untuk kegiatan pendidikan.Organisasi Persaudaraan & Organisasi Pelayanan Kemanusiaan

“Belum lagi soal bantuan dana hibah. Ada salah satu PC yang sudah menerima yang akhirnya harus mengembalikan karena akan menjadi temuan BPK ketika tidak ada SK-nya. Coba kalau itu 200 PC kemarin yang mangkrak seperti itu,” ujarnya menyayangkan sikap PBNU tersebut.

Selain itu, Gus Yusuf juga menyayangkan ketidakhadiran PBNU pada segudang  permasalahan yang sedang dialami banyak pesantren beberapa waktu belakangan.

Ia menilai PBNU abai terhadap sejumlah permasalahan krusial yang dialami pesantren seperti maraknya kasus pencabulan, adanya kekerasan fisik yang terjadi di lingkungan pesantren, hingga problem infrastruktur yang tidak layak yang mengakibatkan 150 santri meninggal dunia.

“Dan pesantren merasa sendirian menghadapi berbagai macam ujian ini. NU tidak pernah hadir. Nggak pernah hadir mendampingi pesantren,” ujarnya.

Imbas dari absennya PBNU berdampak pada turunnya animo masyarakat secara drastis terhadap institusi pesantren.Kutipan Terkenal

BACA JUGA  Trans Jateng Jekuti Diharap Pangkas Kepadatan Lalin Pantura Timur

“Maka diharapkan betul NU ke depan akan lebih konsentrasi ke pesantren. Karena apapun pesantren adalah benteng pertahanan Nahdlatul Ulama. Ketika masyarakat sudah mulai meninggalkan pesantren, ini sebetulnya warning, alarm keras untuk ke depan Nahdlatul Ulama. Maka tugas kita bersama ke depan untuk kembali menjaga pesantren itu,” tegasnya.

Terkait dengan faktor eksternal, di kesempatan tersebut Gus Yusuf turut memberikan apresiasi yang luar biasa kepada pemerintah karena telah menghadirkan program Sekolah Rakyat melalui Kementerian Sosial.

Langkah ini dinilai Gus Yusuf sebagai komitmen pemerintah dalam memberikan akses pendidikan yang layak bagi masyarakat yang tidak mampu.

Meski dirinya menilai program ini bagus bagi masyarakat khususnya kalangan bawah, namun Gus Yusuf melihat keberadaan Sekolah Rakyat memunculkan tantangan baru bagi NU, utamanya pesantren.

“Karena ceruknya sama ini, kalau kita nggak siap ya nanti ini akan kegerus. Santri-santri ini akan pindah masuk ke situ,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia juga menyayangkan sikap pemerintah yang tidak memberikan ruang keterlibatan bagi NU dalam hal pengelolaan Sekolah Rakyat.

Padahal menurutnya, jika pemerintah mau berkolaborasi bahkan bersedia mengintegrasikan Sekolah Rakyat dengan pesantren, maka pemerintah tidak perlu pusing untuk memikirkan bagaimana membuat fasilitas asrama yang baru, kesiapan tenaga pendidik, serta menggelontorkan dana yang tidak sedikit jumlahnya.

“Nah, padahal komandan Sekolah Rakyat adalah Sekjen PBNU. Ini yang kita ironis.” Katanya.Filosofi

BACA JUGA  Pencarian Korban Ambruknya Ponpe Al Khoziny Dihentikan Keluarga Korban Siapkan Gugatan

Gus Yusuf mengajak seluruh elemen nahdliyyin agar kedepan, NU mesti dikelola bersama-sama secara professional, transparan dan bertanggung jawab.

Sebab tantangan NU di abad kedua jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan. Selain bidang pendidikan, problem ekonomi dan layanan kesehatan juga harus menjadi konsen NU di abad kedua.

Pemerataan juga mesti menyasar pada bidang-bidang non pendidikan. Agar kedepan, tak lagi ditemukan ketimpangan pada perkhidmatan NU di masyarakat.

“Jawa Timur itu punya 22 rumah sakit. Jawa Tengah cuma punya satu, PCNU Demak. Jawa Barat belum punya, Jogjakarta belum punya dan juga Jakarta Artinya Pak Jawa Timur itu ada, berarti kan inisiasi dari cabang. Atau dari tokoh-tokoh NU lokal, bukan afirmasi dari PBNU. PBNU belum gerak sama sekali kalau soal rumah sakit ini. Nah ini sebetulnya yang harus kita dorong keluar,” pungkasnya.

Demikian Gus Yusuf dalam diskusi bertema “NU Masa Depan & Masa Depan NU”, Senin (13/7/2026), di Komplek Ligamas, Pancoran, Jakarta Selatan.

Ditulis : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *