Jakarta, Proliman News — Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa calon Ketua Umum PBNU tidak cukup hanya bermodalkan popularitas atau kapasitas keilmuan semata. Figur yang terpilih harus memiliki kemampuan manajerial dan teknokratis yang mumpuni untuk mengelola serta menggerakkan organisasi.
Pandangan tersebut disampaikan Kiai Ma’ruf dalam tayangan Menjadi Indonesia episode ke-48 bertajuk “Di Balik Turun Gunungnya Kiai-Kiai Sepuh Jelang Muktamar ke-35 NU” di kanal YouTube NU Online.
Kriteria Utama Kepemimpinan PBNU
Menurut Kiai Ma’ruf, Ketua Umum PBNU memegang peran krusial sebagai eksekutor lapangan yang bertugas menerjemahkan berbagai arahan dan arahan strategis dari Rais ‘Aam menjadi program nyata.
Beberapa kriteria utama yang disorot meliputi:
- Kapasitas Manajerial: Memiliki skala kemampuan mengelola tata kelola organisasi berskala besar secara terstruktur dan efektif.
- Kemampuan Teknokratis: Memiliki keterampilan teknis untuk menggerakkan seluruh perangkat dan badan otonom organisasi dari tingkat pusat hingga ranting.
- Eksekutor Terbaik: Posisi Ketua Umum bukan figur seremonial, melainkan pelaksana terbaik yang sanggup mengeksekusi agenda keorganisasian.
”Ketua Umum itu harus memiliki manajerial, skala kemampuan mengelola, kemudian juga secara teknik mampu menggerakkan organisasi. Harus dipilih yang terbaik,” tegas KH Ma’ruf Amin.
Selain tata kelola, Kiai Ma’ruf mengingatkan bahwa kepemimpinan PBNU mendatang wajib mengemban dua fungsi al-islah wal-islah (pemersatu dan perbaikan) guna menghadapi tantangan keumatan dan kebangsaan:
- Menyatukan Potensi (Al-Islah Internal): Merangkul seluruh elemen dan mendamaikan perbedaan agar NU tidak terpecah belah oleh kepentingan internal.
- Perbaikan Gerakan (Al-Islah Manhaj): Memastikan seluruh aktivitas dan gerakan (harakah) organisasi tetap tegak lurus pada koridor fikrah (pemikiran) dan manhaj (metode) Nahdliyah.
Liputan: Galang Andika Pratama



