Kulon Progo, Proliman News – Pembinaan olahraga pelajar di Kulon Progo dinilai berjalan di tempat karena tidak memiliki target kinerja yang mengikat sekolah.
Selama bertahun-tahun, prestasi atlet lahir secara sporadis, bukan hasil sistem. Sekolah lebih sering menjadi penonton daripada produsen atlet.
Kritik itu mengemuka dalam audiensi KONI Kulon Progo bersama para kepala SMA/SMK se-kabupaten, yang dihadiri Kepala Balai Pendidikan Menengah Kulon Progo Heru Santosa, Ketua KONI Kulon Progo Hamam Mutaqim, Wakil Ketua Umum I KONI Master Zuharsono Azhari, serta Wakil Ketua Umum III Bidang Hukum, Advokasi, dan Media Anung Marganto, di Wates, Rabu (4/2/2026).
Sebagai narasumber utama, Anung Marganto menyebut akar persoalan ada pada absennya ukuran keberhasilan di level sekolah.
“Tidak pernah ada target berapa atlet harus lahir dari tiap SMA/SMK. Tanpa angka, tidak ada tanggung jawab. Yang ada hanya seremoni tahunan,” ujar Anung.
Ia memaparkan kerangka Awareness, Commitment, Consistency, Strategy.
Kesadaran pentingnya olahraga, kata dia, harus berubah menjadi kebijakan konkret: jadwal latihan resmi, peta atlet, dan indikator prestasi.
“Sekolah tidak bisa lagi berlindung di balik alasan akademik. Daerah lain maju karena kepala sekolah berani mengambil keputusan,” tegasnya.
Waketum I KONI Bidang Pembinaan Prestasi Master Zuharsono Azhari menyoroti minimnya jam terbang atlet pelajar. Banyak siswa berbakat berhenti di tengah jalan karena tidak ada jalur kompetisi berkelanjutan.
“KONI bisa menyiapkan pelatih dan kejuaraan, tetapi tanpa dukungan sekolah izin, waktu latihan, dan fasilitas semuanya percuma,” katanya.
Ketua KONI Hamam Mutaqim mengakui pola lama terlalu bergantung pada inisiatif personal guru olahraga. “Kita kuat di niat, lemah di sistem. Hasilnya ya acak: kadang muncul, lalu hilang,” ujarnya.
Kepala Balai Dikmen Heru Santosa menegaskan, prestasi olahraga tidak boleh ditempatkan sebagai aktivitas kelas dua.
“Atlet lahir dari ruang kelas. Kepala sekolah adalah manajer prestasi, bukan penonton lomba. Jika sekolah tidak memimpin, daerah akan tertinggal,” katanya.
Forum audiensi menyepakati langkah awal: setiap SMA/SMK wajib menyusun peta atlet, menetapkan minimal satu cabang unggulan, serta menandatangani komitmen pembinaan bersama KONI.
Evaluasi dilakukan triwulanan dengan indikator jumlah atlet aktif, kehadiran latihan, dan capaian kejuaraan.
“Kulon Progo tidak miskin bakat. Kita miskin keputusan. Jika sekolah masih ragu, kita hanya akan mencetak penonton, bukan juara,” tutup Anung.
Liputan : Bagus Aryo



