Kulon Progo, Proliman News – Kasus chikungunya di Kapanewon Wates melonjak hingga 23 suspek dengan empat kasus terkonfirmasi positif pada April 2026.
Gejala penyakit ini sebenarnya sudah muncul sejak sebelum Ramadhan, namun tidak dikenali warga.
Panewu Wates, Sutrisna, melalui edaran resmi tertanggal 17 April 2026 juga mengungkap peningkatan penyakit menular lain, yakni leptospirosis dan suspek campak.
Dua kasus leptospirosis ditemukan di Giripeni tanpa kematian, sementara 18 kasus campak tersebar di sejumlah wilayah dengan satu kasus positif rubella.
Kasus chikungunya sendiri terkonsentrasi di wilayah Kedunggong dan Dipan, Wates.
Namun, penyebarannya sempat tidak terdeteksi karena warga menganggap gejalanya sebagai sakit biasa.
Warga Kedunggong, Kurnianto, yang akrab disapa Antok, mengaku gejala awal hanya berupa demam tinggi dan nyeri sendi.
“Dulu kami kira hanya sakit biasa. Kalau badan panas memang sering disertai nyeri sendi,” ujarnya di Wates pada Senin (21/4/2026).
Gejala serupa kembali muncul menjelang akhir Ramadhan, tetapi dengan tambahan bercak merah pada kulit. Meski begitu, sebagian warga tetap tidak memeriksakan diri.
“Banyak yang hanya tanya tetangga soal obat, lalu beli sendiri di apotek,” kata Antok.
Kondisi itu membuat penyebaran meluas hingga setelah Lebaran. Kasus baru teridentifikasi setelah warga mulai memeriksakan diri ke puskesmas, yang kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah oleh petugas.
Fenomena ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran warga untuk melakukan pemeriksaan dini.
Pola swamedikasi dinilai memperlambat deteksi dan berpotensi memperluas penularan.
Sebagai langkah penanganan, petugas puskesmas melakukan fogging tahap pertama pada 21 April 2026 di wilayah Kedunggong dan Dipan.
Fogging lanjutan dijadwalkan pekan depan, disertai pemeriksaan jentik nyamuk secara massal di rumah-rumah warga.
Sutrisna menegaskan, penanganan tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku masyarakat.
“Kalau warga tetap menunda periksa dan tidak peduli lingkungan, kasus seperti ini bisa terus berulang,” ujarnya.
Dengan kondisi pascahujan yang memicu banyak genangan, warga diminta lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan agar wabah serupa tidak kembali meluas.
Liputan : Anung Marganto



