Kulon Progo, Proliman News – Keresahan para tokoh masyarakat akan masa depan Kulon Progo mulai mencuat jelang Pilkada Kulon Progo 2024.
Sejumlah tokoh menyatakan, tagline pembangunan yang dimunculkan sejumlah bupati empat periode kepemimpinan Kulon Progo lalu ternyata tidak membuahkan hasil.
“Kita mulai dari tagline Tirto Margo Saras, lalu Bela Beli Kulon Progo, seberapa besar pengaruhnya meningkatkan ekonomi masyarakat ? “ ujar Agus Sujarwo, dalam diskusi para pakar Kulon Progo Digdoyo, beberapa hari lalu.
Agus Sujarwo menegaskan, tagline tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Nyatanya kemiskinan kita masih tinggi, pengelolaan kawasan masih semrawut, tidak ada ikon yang memiliki daya dorong bagi perekonomian Kulon Progo.
“Dalam beberapa tahun ini belum ada peningkatan secara signifikan dari sisi ekonomi. Padahal banyak potensi ekonomi yang bisa digarapa dan bisa meningkatkan perekonomian Kulon Progo,” ujarnya.
Apalagi dengan keberadaan bandara internasional YIA yang semula digadang-gadang bisa memberikan efek domino bagi perekonomian Kulon Progo, ternyata tidak berdampak apa-apa.
“Salahnya dimana ? Apa yang salah ? Atau jangan-jangan Pemkab Kulon Progo yang tidak punya inisiatif, atau masyarakat kita lemah,” ujarnya dihadapan para pakar saat mempertajam tema pengembangan potensi wilayah KulonProgo.
Keresahan para tokoh tokoh masyarakat yang ada di Kulon Progo tersebut kemudian memunculkan gagasan adanya gerakan masyarakat melawan kemiskinan guna memberi perspektif baru bagi semua pihak dalam pengelolaan Kulon Progo kedepan.
Tagline #kulonprogodigdoyo digagas oleh para tokoh masyarakat yang peduli akan masa depan Kulon Progo agar menjadi kabupaten yang mandiri dan berdaya secara ekonomi.
“Sebenarnya di Kulon Progo ini ada potensi untuk mengembangkan dan meningkatkan perekonomian masyarakat,”ujarnya.
Dicontohkan, dengan membudidayakan tanaman seperti lidah buaya. Sektor ini ternyata bisa menjadi komoditi yang membuat banyak negara kebergantungan.
“Nilai ekonomi lidah buaya ini jika diolah secara maksimal bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Kulon Progo. Apakah terpikir untuk itu, apakah ada langkah nyata untuk itu,nggak ada,” terang Agus Sujarwo di sela-sela diskusi rutin Kulon Progo Digdoyo
Ia menegaskan, banyak potensi-potensi yang bisa digali dari Kulon Progo dam yang sudah dimulai belum dimaksimalkan oleh pemimpin Kulon Progo beberapa periode sebelumnya.
“Pemimpin ke depan harus mampu menggali potensi yang ada di Kulon Progo. Dengan gerakan #kulonprogodigdoyo pemimpin Kulon Progo ke depan harus mampu menciptakan identitas yang selama ini hilang,” pungkasnya.
Sebelumnya Brotoseno, seorang tokoh masyarakat yang secara khusus diundang dalam pendalaman materi penguatan ekonomi Kulon Progo kedepan, menytakan, wilayah ini butuh identitas.
“Dulu kopra itu menjadi ikon Kulon Progo, kenapa hilang. Karena kita bodo, tidak mampu membuat rekayasa teknologi dan mengembangkan pasarnya,” ujar Brotoseno.
Kalau mau maju, tidak miskin, maka keberanian pemimpin Kulon Progo menggali dan membuat ikonik penting artinya. Menciptakan identitas itu penting, dan menjadi dasar dinamika perekonomian wilayah ini.



